Jumat, 02 Juli 2021

Epitaf Fantasi

 'bagaimana kau akan mengingatku?' 'aku akan selalu mengingatmu seperti embun merindukan datangnya fajar, hingga ia tak pernah ada kecuali datang pagi untuk mengecupnya.’ Anyelir, engkaukah itu yang menyapaku dalam sunyi? 'bagaimana kau mencintaku?' 'aku akan mengasihimu seperti kasih bumi pada langit, yang selalu menantikan pelukan langit, meskipun sadar pelukan langit adalah tanda kehancuran hidupnya.' Anyelir, takkah kau rasa pekat yang mendekap dalam kehampaan kita? 'bagaimana kau akan menjadikanku?' 'aku akan menjadikanmu sebagai senyawa bahagia yang mengalir dalam darahku, hingga ketiadaan dirimu menjadikan hidupku terlarut dalam kedukaan - seperti sekarang.' Anyelir, mendekatlah, akan kubisikkan kepadamu nyanyian senja untuk terlupa dari segala melankolia fana yang membius ini 'mengapa kau bisa mencintaku sedemikian rupa?' Kemarilah Anyelir, kan kudekap kau erat hingga bersama kita tersesat dalam relung tak berujung. Kemarilah Anyelir, mendekatlah.

 

“Lit me a light of fire that light up and circle round my heart’[i]iringan musik yang diputar dari nuansa kafe tersebut berhasil memecah konsentrasinya. Sudah 10 menit ia hanya duduk termenung di kafe tersebut tanpa tahu apa yang harus ia katakan. Begitu banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan pada sosok yang saat ini duduk di depannya dan menatapnya dengan tatapan penuh makna dan senyum yang terkesan sinis mengejek. Matanya tak henti berpindah dari sosok di depannya ini, kemudian berpindah lagi ke lembaran foto yang sedari tadi ia pegang, yang diserahkan laki-laki itu, bersama dengan selembar kertas penuh dengan coretan yang ia tak mengerti, yang ia geletakkan di samping cangkir kopinya. Dia ingin sekali merokok, pikirannya sudah penuh kabut; tapi karena mereka saat itu ada di dalam ruangan yang dilarang merokok, maka ia hanya bisa berulang kali menghela dan menghembuskan nafas dalam-dalam. 30 menit dia sudah dalam kafe itu. 20 menit mendengarkan celoteh orang asing yang ada di depannya ini, dan 10 menit ia hanya terdiam. Sebelumnya ia merasa 30 menit merupakan waktu yang tak akan terasa cukup jika dihabiskan minum kopi; tapi kini dia merasa telah menyia-nyiakan setiap menit yang berharga jika ia hanya duduk terdiam di sana. Maka, untuk yang kesekian kalinya ia menghela dan menghembuskan nafas dalam-dalam, diletakkannya lembaran foto yang semula ia pegang itu di atas lembaran kertas yang penuh coretan. Matanya terus menyelidik sosok yang ada di depannya. Sejenak ia ingin meminum kopi yang tersaji di depannya, tapi ia lantas tersadar bahwa kopi tersebut sudah habis sejak 5 menit yang lalu. Maka, sekali lagi, ia hanya bisa menghela napas, dan baru dia bisa bersuara lagi.

 

“Dor! Dor! Dor” Tiga kali suara pistol itu menyalak; meskipun sudah ia pasang peredam namun ia merasa letupannya bagai musik orkestra yang memekakkan telinga. Ia memandang dengan penuh kebencian pada sosok di depannya yang langsung terkulai begitu timah panas itu menembus perut dan dadanya. ‘Mengapa?’ ia bisa mengerti, mungkin itulah pertanyaan yang hendak diucapkan laki-laki ini di akhir ajalnya, meskipun tak satu katapun terucap. Tapi ia memilih diam, membiarkan laki-laki ini tersiksa dengan pedih di tubuhnya, dan juga tersiksa dengan beragam pertanyaan. Ia sangat menikmati melihat sosok di depannya ini menderita. Lalu ia tembakkan dua butir peluru di masing-masing lutut laki-laki itu. ‘Akh! Akh!’ setiap teriakan kesakitan itu membuatnya bahagia, seperti ia mendengar kembali lonceng pernikahan yang dulu ia nantikan. Matanya berkilat-kilat, senyumnya merekah; ia sangat bahagia! Lalu ketika ia rasa nafas lelaki di depannya semakin melemah, ia kembali menyiapkan pistolnya lagi, dan mengarahkan ke pangkal selangkangan lelaki itu. ‘Aku tak tahu apa kau mengerti atau tidak tentang apa yang kuperbuat, juga tentang yang kau sendiri perbuat. Tapi tahu atau tidak, itu tidaklah penting lagi. Karena aku harus melakukannya. Pengecut seperti kau harus mati di tanganku.” Dan Dor! Peluru terakhir menyalak tepat di arah yang ia todongkan, merenggut keping nyawa terakhir lelaki itu, bersama teriak kesakitan yang tercekat di pangkal tenggorok. ‘Sinful recognition in my life goes without no one’[ii]ia bisa mendengar lagu yang sedang ia putar di ponsel yang ia simpan di saku kemejanya, namun ia tak bisa mendengar tangisnya sendiri.

 

Wanita renta itu menghentikan langkahnya. Ia tak kuasa untuk menapakkan kaki lebih jauh lagi. Untuk kesekian kalinya ia harus menyeka air matanya. Pemuda yang semula menggamit lengannya dan membimbingnya melangkah, hanya bisa berdecak kesal ‘mau sampai kapan mama begini terus? Sudah tujuh tahun berlalu, tapi mama tetap terus menangis dan bersedih. Apa mama pikir aku tidak ikut merasa kehilangan juga ma?’ wanita itu terus menangis sesenggukan. ‘kau tidak akan pernah mengerti rasanya, nak.’ ‘bagaimana aku bisa tidak mengerti ma? Mereka keluargaku juga ma! Dia kakakku yang paling kusayang, ma! Aku juga kehilangannya!’ wanita itu hanya terdiam menahan tangis; dan tercipta keheningan sesaat diantara mereka berdua.  Melihat ibunya menahan kesedihan yang mendalam, dirangkulnya pundak wanita itu. ‘sudahlah ma, demi kakak juga, ayo kita tetap menjenguk dan merawat kakak ipar. Kakak pasti juga tidak suka kan jika dua orang yang ia cintai terus bersedih kehilangannya.’ Wanita itu tidak berkata apapun, namun dia mulai melangkahkan kakinya kembali. Melihat itu si pemuda tersenyum, dan digamit lengan ibunya itu. Begitu memasuki lobi rumah sakit, si pemuda menyapa perawat yang dikenalnya dengan ramah, ‘siang suster. Apa ada kabar baik mengenai kondisi kesehatan kakak ipar saya, sus? Apa kesadarannya sudah pulih?’

 

‘Yuk, nanti weekend  kita jalan liburan ke luar kota.’ ‘Hei, lihat, ini ‘kan model sepatu yang waktu itu kamu mau. Lagi ada diskon, lho!’ ‘Eh sini deh, liat dong, kue bikinan aku. Mau coba ngga? Coba ya, nanti bilang enak ya’ ‘Ayo dong semangat, jangan males-malesan dong, kan sudah mau jadi ayah’  ‘Oh jadi kamu suka ama aku? Hm gimana ya, aku harus ngejawab apa ya, hihi’ ‘Tau ngga kemarin waktu lagi jalan apa mama di mall, aku denger salah satu lagu band favorit kamu. Entah kenapa aku jadi keinget kamu yang kaya anak kecil deh kalo ke konser’ ‘Hal yang paling aku suka dari kamu adalah sifat optimistik dan positive thinking kamu. Ajari aku ya biar bisa kaya gitu terus’ ‘Hai, kenalin. Namaku Anyelir.’  ANYELIR!  Dia berteriak terbangun dalam tidurnya. Dilihat sisi ranjangnya yang kosong. Ia teringat betapa dulu istrinya senang menggodanya ketika malam tiba, betapa dulu istrinya senang memainkan rambutnya di sisinya menjelang tidur, dan betapa istrinya senang menirukan pose kucing yang malas bangun ketika pagi tiba. Ia menyapu mata ke seluruh sudut kamar. Ia teringat betapa dulu istrinya yang ngotot untuk melakukan desain interior sendiri dan selalu sibuk dengan perabotan apa yang tepat untuk mengisinya. Ia teringat segala pertikaian kecil di antara mereka ketika mengisi rumah mungil itu. ‘ini cocok ditaruh disini’ ‘warna ini yang paling tepat disejajarkan dengan warna itu.’ ‘merk ini yang paling bagus kualitasnya.’ Segala pertikaian-pertikaian kecil yang diakhiri cumbuan mesra yang mendamaikan keduanya. Hal-hal kecil yang selalu luput dari matanya bisa dilihat jelas oleh istrinya. Ia sedikit tersenyum, ketika teringat kembali bagaimana repotnya dia harus meladeni segala permintaan istrinya menjelang pernikahan mereka dulu. Kini, ketika dia tersadar kembali bahwa segala kebahagiaan hidupnya telah hilang, ia hanya bisa berteriak sendiri dalam keremangan malam; merutuk ketakberdayaan dan ketakberuntungannya. Dan entah telah berapa lama ia masih tak bisa tidur ketika malam menjelang hingga pagi menyapa; ia sudah tak mampu menghitungnya.

 

‘Aku tak bisa mempercayainya.’ ‘aku juga tak minta kau untuk percaya.’ ‘apa yang kau harapkan dariku?’ ‘apa yang bisa kuharapkan darimu?’ ‘perlukah pertemuan kita ini diteruskan?’ ‘apakah menurutmu perlu untuk diteruskan?’ ‘mengapa kau menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lain?’ ‘mengapa kau harus bertanya kepadaku jika kau sendiri telah memiliki jawabannya?’ Kali ini dia sudah mulai kehilangan kesabaran. ‘Cukup! Apa maksud dari ini semua? Kau mau mempermainkanku atau bagaimana?’ ia tahu, teriakannya itu mengundang perhatian dari pengunjung lain yang ada di kafe; tapi ia tak peduli. Ia sudah ingin berteriak dari semula, dan kini ia sudah tak mampu menahannya. Namun yang membuatnya agak terkejut adalah fakta bahwa lelaki di depannya ini masih terpaku saja dengan pandangan penuh arti dan senyum sinis mengejek. Ingin sekali ia menghajar lelaki ini untuk sekedar menghapuskan senyuman di wajahnya itu; namun masih ada sedikit kewarasan yang ia punya. Ia hanya bisa berdiri termenung, dengan lengan terkepal dan nafas memburu, dengan tatapan penuh kemarahan yang terpusat pada sosok di depannya ini. Semula ia tak mengharapkan apa-apa, namun ia terkejut ketika lelaki ini akhirnya mendengus, dan membuka suara, “apa kau siap untuk melakukan sesuatu – itu yang harus kau jawab terlebih dahulu” ia tak bisa merasakan dan berpikir apapun. Namun ia tahu, bahwa kembali duduk tenang dan mendengarkan adalah pilihan terbaik yang ia punya.

 

Malam semakin larut dan dingin. Suara debur ombak berbaur dengan suara beberapa pasang manusia yang masih bertahan di warung-warung pinggir pantai menjadi pemecah keheningan malam. Sebuah mobil sedan warna merah lantas berhenti melipir di area parkir yang sudah tersedia. Tampak sesosok pria melangkah gontai keluar dari mobil tersebut; alih-alih menuju warung yang masih buka, ia berjalan menuju tembok beton pembatas pantai yang setinggi pinggang orang dewasa tersebut. Tak diacuhkannya beberapa pasang pemuda yang masih tersisa yang duduk-duduk di sekitar tembok tersebut. Ia menatap nanar ke tengah laut yang gulita dan nampak tenang tersebut. Segala hal berkecamuk di pikirannya. ‘apa yang telah kulakukan?’ ‘mengapa aku malah kesini?’ ‘apa yang harus kuperbuat nanti?’ ia hanya bisa terus tenggelam dalam pikirannya sambil terus menerus menghela nafas panjang. Diliriknya beberapa pasang manusia yang masih tersisa di pinggiran tembok pantai tersebut. ‘pasangan yang penuh kepalsuan! Dimabuk eforia asmara sesaat saja!’ ‘apa yang akan mereka lakukan jika tahu orang yang di hadapannya akan mengkhianati mereka kelak?’ ‘apa yang akan mereka lakukan jika mereka melihat ada orang lain yang lebih menggairahkan dibandingkan sosok yang ada did depannya?’ ‘apa yang mereka lakukan jika nanti mereka harus terpisah?’ ‘apa yang mereka lakukan jika mengalami hal yang sama sepertiku?’ pertanyaan-pertanyaan tersebut terus membuncah di benaknya. Tak kuasa, ia merogoh saku celananya, mencari bungkus rokok dan korek yang biasa ia simpan disana. Ia membutuhkan nikotin sebagai penenang. Dan ketika api itu membakar rokok tersebut, dan ketika asap itu terkepul keluar dari mulutnya, ia merasa menemukan suatu kesenangan yang menenangkannya.

 

Anyelir, aku melihatmu mengangkasa bersama bahagia, menari beriring sedih, melaju dalam layu, terhampar dengan nestapa, terbujur dengan haru. Masihkah senyummu seindah senja? Masihkah pelukmu sehangat pagi? Masihkah tawamu sesejuk rintik hujan? Atau kini kau telah enggan tuk menyapaku laiknya hujan yang menolak membasahi bumi saat kemarau menjelang? Aku melihat keindahan embun yang menetes dari dedaunan pakis, dan aku teringat keindahan yang tersaji dari titik air matamu. Aku merasakan butiran pasir pantai yang lembut terkikis dari genggamanku; kelembutan yang sama kala kubasuh kulitmu dengan jemariku. Aku mendengar tawa bahagia kerumunan anak tetangga yang sedang bermain bola, mendendangkan syair bahagia yang sama tulusnya dengan tawamu. Anyelir, ketika seluruh duniaku selama ini adalah dirimu, bagaimana aku mampu hidup di dalamnya ketika kau tak ada lagi?

 

“Kruk..Kruk..Kruk” peti mati sudah diturunkan, pasir sedang diuruk. Kidung kematian masih disenandungkan perlahan. Pastur yang memimpin upacara pemakaman tampak letih; ia tak kuasa menahan haru dan sedih melihat bagaimana jemaatnya yang taat ini menemui kematiannya. Meskipun ia sudah berpengalaman cukup banyak memimpin pelbagai ritual pemakaman, namun ia tahu bahwa dirinya masihlah seorang anak gembala yang lemah dalam mengendalikan emosi. Ia melempar pandang ke sampingnya, ke arah lelaki yang berdiri tegar menghibur ibu si mayat yang sedari kemarin terus hanyut dalam tangis. Ia sangat kagum akan ketegaran hati lelaki ini yang ia kenal baik sebagai suami dari si jenazah; meskipun si suami ini bukan jemaat yang taat seperti si istri, ternyata Tuhan menganugerahinya dengan ketabahan yang luar biasa, begitu pikir si pastur. Laki-laki ini mampu menguasai dirinya untuk bisa membantu menenangkan adik iparnya yang masih SMP dan ibu mertuanya yang sudah paruh baya agar tidak larut dalam kesedihan. Bagi lelaki ini, keluarga istrinya adalah keluarganya juga. Ayah ibunya telah tiada dan dia adalah anak tunggal; berada bersama keluarga istrinya membuatnya serasa berada di keluarga kandungnya sendiri. Kehilangan istrinya sudah begitu berat, terlebih jika harus melihat mertua dan adik iparnya bersedih sedemikian hebat. Maka, meskipun dalam hatinya berkecamuk rasa benci dan amarah, ia merasa berkewajiban untuk menahannya terlebih dahulu. Ya, aku harus memastikan mama mertua, dan adik ipar agar tidak terlalu larut dalam kesedihan dulu, baru memikirkan hal yang lain, begitu pikir laki-laki. Menyaksikan gerak-gerik lelaki yang nampak begitu kuat dalam mengendalikan emosinya, pastur ini merasa diingatkan betapa lemahnya ia jika dibandingkan jemaatnya yang tak tergolong taat ini. Dan ia lalu tersadar atas tanggung jawabnya untuk memimpin upacara pemakaman tersebut. Maka, setelah ia membuat tanda salib dalam hati dan memohon ampun, ia kembali memusatkan perhatiannya dalam memimpin upacara pemakaman tersebut. Seluruh yang hadir disitu nampak larut mengikuti upacara dengan khidmat; kecuali satu orang yang berdiri agak menjauh dari kerumunan, yang terus memandangi si lelaki dengan pandangan penuh makna dan senyuman sinis.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 

 

Apa yang tersimpan dalam kehampaan? Apa yang tersajikan dari kesunyian? Apa yang tersisa dari kesia-siaan? Arus waktu ini, benarkah ia akan mengantarkan kita pada sebuah akhir yang sama? Ataukah kita tenggelam di dalamnya, tanpa pernah menyatu kembali? Kefanaan dunia ini, benarkah ia akan berujung pada sebuah bahagia yang hakiki? Ataukah kita kembali terjebak dalam absurditas yang tak berujung? Anyelir, aku mendengar tawamu di setiap hembus angin kemanapun aku pergi melangkah. Dan aku melihat senyummu dalam setiap senja yang kau kagumi, dan selalu kau ceritakan padaku dengan berbinar-binar. Aku bahagia, kau selalu mengiringiku dalam setiap langkahku. Aku bahagia, keindahanmu masih menjadi penyejuk bagi segala dukaku. Tapi, apakah artinya segala kebahagiaan itu jika ternyata hanya kepalsuan sesaat tanpa ada tawamu yang sesungguhnya; tanpa ada keindahanmu yang nyata. Aku adalah sebongkah pasir yang tak berarti, hanyut tak beraturan tanpa satupun memahami; yang kemudian kau tiupkan makna melalui kehadiranmu di sisiku. Lantas, ketika kau terlenyap untuk selamanya, apa yang bisa kuharapkan untuk kumaknai kembali dari segala ketakberaturanku ini? Anyelir, betapapun aku merindumu, betapapun aku mengharapmu kembali, semua hanya mengantarkanku pada kehampaan, kesunyian, dan kesia-siaan. Anyelir, biarkan aku menuliskan kisah tentangmu, tentang keindahanmu, dan sedikit tentang kita didalamnya, akan kujadikan ingatan tentangmu abadi; biarkan ia menjadi sebuah epitaf yang menandakan segala bahagia ini hanya maya yang bermuara pada nestapa tanpa makna.

 

‘Dia tak akan pernah menyadarinya. Dia tak akan pernah mengerti’ begitu pikir wanita ini ketika hendak menceritakan sesuatu pada lelaki yang sedang menyantap makan malam dengan lahap. Kegundahan hatinya bisa ditangkap oleh suaminya, yang lantas menghentikan makannya itu. ‘apa yang sedang kau pikirkan Anyelir? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?’ Anyelir terkesiap dari lamunannya. Ia sadar kegundahannya itu akan menyusahkan suaminya jika ia ceritakan semuanya. Ia tak mau merusak rumah tangganya yang bahagia ini dengan hal-hal kecil yang tak berguna. ‘bagaimana bisa aku menceritakan kepadanya tentang penguntit yang menggangguku ini? Aku tahu bahwa ia sangat mencintaiku dan mengkhawatirkanku, tapi aku lebih khawatir akan sumbu di kepalanya yang sangat pendek. Jika aku ceritakan tentang bagaimana pegawai di kafe favoritnya itu mulai menggangguku, tentu ia akan meledak dan membikin kacau suasana kafe itu. Aku tak mau segala keributan itu terjadi. Aku tak mau ia menderita karenaku. Sudahlah, toh sepertinya lelaki ini hanya penguntit bernyali kecil. Toh ia tak menggangguku separah yang aku khawatirkan. Mungkin jika aku diamkan saja, aku bentak dan ancam laporkan ke polisi, mungkin dia akan berhenti menggangguku. Ya, aku tak boleh merusak rumah tangga dan kebahagiaanku hanya karena masalah kecil seperti ini.’ Anyelir lantas tersenyum simpul. Direngkuh dan ia genggam dengan penuh kasih jemari suaminya itu. ‘Tidak ada kok Sayang. Hanya sedikit masalah pekerjaan. Tapi kamu tahu kan kalo aku masih bisa nyelesaiin itu semua sendiri. Dan kamu percaya sama aku kan, kalo memang aku sudah ngga bisa aku pasti cerita ke kamu sayang. Kamu percaya kan sama aku?’ sempat terbersit rasa khawatir di benak lelaki ini ketika melihat istrinya nampak gelisah akhir-akhir ini. Namun ia tahu tabiat istrinya yang memang cenderung tidak mau membahas masalah pekerjaan di depannya. Dan ia sudah hafal betul istrinya yang paling tidak suka jika tidak ia percaya. Maka ia hanya tersenyum kecil, mengecup dahi istrinya itu, dan ia membisik mesra ‘iya sayang. Aku tahu kok. Dan aku percaya sama kamu. Semoga sukses ya.’ Setelah melihat senyum bahagia istrinya, dan mendengar balasan mesra ‘terima kasih sayang. I love you.’, laki-laki ini lantas meneruskan makan malamnya lagi dengan lahap.

 

‘Penjelasanmu tak masuk akal’ ‘aku sudah menyampaikan yang sejujurnya padamu.’ Mereka berdua kembali terdiam lagi. ‘Foto itu adalah buktinya. Kau tentunya tidak lupa dengan wajah istrimu sendiri kan.’ Jangan bercanda! Aku bisa membunuhmu disini sekarang karena ucapanmu barusan!’ Dia merasa hampir kehilangan kesabaran. Siapa sebenarnya lelaki ini? Bagaimana bisa dia memiliki foto istrinya – lebih tepatnya bagaimana bisa ia memiliki foto istrinya yang sedang dicekik pria yang tak ia kenal ini! Dan pakaian itu adalah pakaian terakhir yang dikenakan Anyelir sebelum ia meninggal. Bagaimana bisa? Apa dia juga komplotan pembunuh istrinya – pemikiran ini sempat terbersit di benaknya, tapi dia masih bisa berpikir logis, jika demikian mengapa orang yang mencekik ini membiarkan kehadirannya? Lalu jika dia bukan komplotan pembunuh istrinya, mengapa ia bisa memiliki foto yang sedemikian jelas? Haruskah aku menyerahkannya ke pihak polisi sebagai barang bukti? Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus menghantui benaknya sejak laki-laki itu mengenalkan diri kepadanya di pemakaman tadi siang.

 

‘Anda Tuan Segara?’ laki-laki itu menyapanya di akhir upacara pemakaman.  Sesosok pria, sekitar umur 30an, bertubuh kecil-bungkuk dan rambut klimis menyapanya. Segara mengamati sejenak penampilan lelaki ini. Meskipun tubuhnya kecil bungkuk, namun pakaian lelaki ini nampak rapi dan necis. Ia sebenarnya sudah malas menanggapi orang yang sekedar menyampaikan ucapan duka yang baginya hanya basa basi belaka; namun dia tak ingin melukai kenangan baik orang tentang istri yang dicintainya. Ia sendiri merasa asing dengan wajah lelaki ini. Apa ia rekan kerja istrinya dulu? Mengapa baru kali ini ia bertemu dengannya? ‘Saya kenalan mendiang istri Tuan.’ Hatinya sedikit lega mendengar jawaban ini. Namun untuk apa laki-laki ini menyapanya? ‘Saya turut berduka atas meninggalnya Nyonya Anyelir, Tuan.’ Kecurigaan terhadap laki-laki ini tidak terbukti ‘Terima kasih, Tuan.’ ‘Ada yang ingin saya bicarakan dengan Tuan Segara.’ ‘Apa maksud anda, Tuan? Saya sedang berduka. Lagipula saya tidak kenal anda.’ Ternyata kecurigannya tepat! Tapi apa yang diincar laki-laki ini? Laki-laki itu tiba-tiba merapatkan tubuhnya, merogoh saku dalam jasnya dan menunjukkan selembar foto, ‘Saya hendak membicarakan tentang ini, Tuan.’ Hati Segara berdegup kencang. Foto Anyelir sedang dicekik seorang pria lain yang tak ia kenal!

Segara langsung mendelik kepada laki-laki itu. Siapa laki-laki ini? Apa maksudnya ini? Segara ingin merebut foto itu dan melihatnya lebih lanjut, tapi laki-laki itu menepis pergeralngan tangannya. Ingin ia mencengkram kerah leher laki-laki ini dan menginterogasinya lebih lanjut. Namun melihat bahwa masih ada beberapa peziarah didekatnya, ia merasa harus mengendalikan diri. Ia mendesis ‘Saya tidak mengerti maksud tuan. Tolong jelaskan pada saya’ laki-laki di hadapannya malah tersenyum sinis. ‘temui saya sore ini di kafe langganan tuan. Saya hanya punya waktu 1 jam untuk menjelaskan semuanya. Saya tunggu disana.’ Ia hendak menahan laki-laki itu, namun laki-laki itu segera berlalu begitu saja. Maka disinilah ia, berdua dengan lelaki asing, yang ia curigai salah satu pembunuh istrinya.

‘kau mau membunuhku, Segara? Maaf, kau tak akan mampu melakukannya.’ Segara merasa sudah tidak mampu menahan emosinya lagi dipermainkan seorang pria asing di tengah kedukaannya. ‘Cukup! Aku tak kenal siapa engkau ini! Aku merasa ocehanmu sudah keterlaluan! Aku akan melaporkanmu ke polisi dan menyerahkan bukti foto ini!’ Tepat saat dia sudah siap beranjak dari tempat duduknya tersebut dan mengemasi barangnya, laki-laki itu mendengus sinis. ‘bagaimana jika aku bisa memberimu keadilan yang lebih jika dibandingkan dengan yang polisi berikan padamu?’

 

‘Tok. Tok. Tok’ suara ketukan di jendela mobilnya membangunkannya dari tidur. Satpam kantor yang ia kenal, sedang patroli. ‘Malam, Pak Segara. Lagi tidur ya Pak?’ ‘Malam Pak. Iya Pak, istirahat sejenak sebelum kena macet.’ Dilihatnya arlojinya. Sudah pukul 6 malam. Sudah hampir 1 jam ia tertidur disitu. Waktunya pulang ke rumah dan makan malam dengan Anyelir. sedikit kopi mungkin akan membantu menenangkan pikiranku. Segara membuka dashboard mobil, tempat dia biasa meletakkan kopi kalengnya. Namun, betapa terkejutnya ia ketika tidak mendapati kopi kaleng disitu, tetapi sebuah pistol, yang terbungkus bersama selembar foto dan kertas penuh coretan. Jantungnya berdegup kencang. Jadi itu bukan mimpi?

 

‘Malam Sayang!’ seperti yang ia harapkan, istrinya selalu menyambutnya dengan penuh kehangatan cinta kala ia pulang. ‘Aku sudah siapkan makan malam untuk kita. Selepas kau mandi, makan bersama ya.’ Segara hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa. Dia tak bisa bisa mengalihkan pikirannya dari isi dasbor mobilnya tadi. Hanya wajah istrinya yang sanggup membuatnya melupakan kegelisahan itu. Teringat segala kenangan bahagia yang ia lalui bersama istrinya selama ini. Apakah memang benar ia harus kehilangan semua itu? Pikirannya terus terhantui kala ia mandi dan ketika kini mengecap makanan. Ia mencoba memfokuskan diri pada kelezatan masakan yang ia kecap itu, namun tak satupun dapat ia rasa. Dilihatnya istrinya nampak penuh pertanyaan juga; apa ia menyadari apa yang pikirkan? ‘apa yang sedang kau pikirkan Anyelir? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?’ ia mampu melihat bilur keterkesiapan dari kilat mata istrinya membuatnya bertanya-tanya benarkah istrinya menyadarinya? Anyelir hanya tersenyum simpul. Direngkuh dan digenggam dengan penuh kasih jemarinya itu. ‘Tidak ada kok Sayang. Hanya sedikit masalah pekerjaan. Tapi kamu tahu kan kalo aku masih bisa nyelesaiin itu semua sendiri. Dan kamu percaya sama aku kan, kalo memang aku sudah ngga bisa aku pasti cerita ke kamu sayang. Kamu percaya kan sama aku?’ Segara gelisah karena ia tahu istrinya berbohong. Apakah benar semua yang ia rasakan dalam mimpinya tadi bahwa sebelum istrinya meninggal ia merasakan sebuah ketakutan yang dalam? Dia tahu tabiat istrinya, dan dia bisa merasakan sebuah kebenaran dari premisnya tersebut. Maka ia hanya tersenyum kecil, mengecup dahi istrinya itu, dan ia membisik mesra ‘iya sayang. Aku tahu kok. Dan aku percaya sama kamu. Semoga sukses ya.’ Setelah melihat senyum bahagia istrinya, dan mendengar balasan mesra ‘terima kasih sayang. I love you.’, laki-laki ini lantas meneruskan makan malamnya lagi dengan lahap. Ia ingin dengan segera menuntaskan makan malam tersebut, dan mengakhiri gelisah di hatinya. Bayangan dirinya memacu mobil ke alamat yang tertulis dibalik foto tersebut, mengokang pistol, perlahan menaiki anak tangga kemudian mengetuk pintu dan memuntahkan pelor panas pada laki-laki yang membukakan pintu tersebut terpatri dengan jelas di benaknya. Akan kulakukan apa yang harus kulakukan, tekadnya. Setelah makan malam selesai dan membereskan piring-piring kotor, diambilnya kunci mobil di kamarnya. ‘Aku keluar sebentar, tadi seorang kawan menghubungiku. Katanya ada hal penting yang mendadak harus dibereskan. Kau kunci pintu saja, aku bawa kunci cadangan.’ Istrinya terkejut dan terheran. Tak biasanya suaminya pergi keluar mendadak malam-malam, dan hampir tidak pernah ia pergi begitu saja tanpa mengecup keningnya. Ia menjadi khawatir, ‘apakah suamiku menyadari tentang kekhawatiranku selama ini’. Ketika ia bergegas membuka pintu rumah, dilihatnya mobil sudah dipacu menjauh oleh suaminya. Sambil memandang kejauhan dalam gelap, jantungnya tak bisa berhenti berdegup kencang.

 

‘Segara, dengarkan aku baik-baik untuk terakhir kalinya. Aku rasa aku sudah tidak punya waktu lagi untuk menjelaskan semuanya kembali padamu. Aku adalah Izrail, sang penguasa nyawa. Dan aku telah menyampaikan kepadamu kebenaran yang sebenarnya lewat bukti-bukti yang kuberikan padamu. Catatan kertas itu, yang mencatat tentang detil kematian orang yang kau kenal, tentang umur berapa mereka mati, kapan mereka mati, dan bagaimana mereka mati, seharusnya kau menyadari bahwa aku tidak berdusta kepadamu. Dan foto itu, foto yang memperlihatkan detik-detik kematian istrimu, seharusnya bisa menjadi bukti kuat untuk meyakinkanmu. Ketahuilah, bahwa lelaki dalam foto inilah pelaku sebenarnya – orang yang telah membunuh istrimu dan calon anakmu, serta memperkosa mayat istrimu. Hasil pemeriksaan forensik akan segera keluar dan pemeriksaan sperma akan menunjukkan bukti bahwa dia memang cocok sebagai pelakunya. Tapi semua sudah terlambat, karena lelaki itu telah membunuh dirinya semalam di kamarnya. Dengarkan aku, Segara. Ketika sesosok manusia itu lahir, dia mempunyai kehidupan yang berjalan paralel di 9 dunia. Takdirmu bersinggungan dengan Anyelir di 4 dunia; namun tidak satupun di antara 4 dunia itu kau akan hidup berdampingan selamanya dengan Anyelir. Dari 4 dunia itu, ada dua dunia dimana takdir kau dan Anyelir, bersinggungan dengan laki-laki yang ada di foto itu. Dan di kedua dunia tersebut laki-laki itulah yang akan menghabisi nyawa istrimu. Namun di duniamu hidup sekarang, laki-laki itu telah mati bunuh diri; kau tak akan bisa menuntut balas. Maka, jika kau ingin menghabisi nyawa laki-laki itu, kau memiliki kesempatan di 1 dunia lain. Waktu yang berjalan di dunia paralel tersebut berjarak 2 hari dengan waktu di dunia ini. Ketika kau bangun tersadar di dunia tersebut, maka kau berada di malam sebelum kematian istrimu. Kau memiliki kesempatan untuk membalas dendam di dunia ini, dan mencegahnya membunuh istrimu di dunia paralel tersebut. Untuk memudahkanmu menjalankan misi balas dendammu, segala ingatanmu yang ada di dunia ini yang berkaitan dengan kematian istrimu akan kutransfer di ingatanmu di dunia paralel tersebut. Dan ingat, kau hanya punya waktu 20 jam di dunia paralel tersebut sebelum nyawa istrimu melayang kembali.’ Semua kata-kata ini meluncur begitu cepat dari mulut lelaki ini.

 

Mendengar hal tersebut, amarah Segara langsung memuncak dan ia membentak. ‘Dengarkan ini Kawan. Aku sudah dengar penjelasanmu ini tadi. Semua tak terasa masuk akal bagiku. Aku rasa sudah cukup main-mainnya. Aku semula menghargaimu karena aku mengira kau rekan istriku; tapi mendengar omong kosongmu aku jadi sangat marah. Foto ini akan aku sita, dan akan aku serahkan ke polisi. Aku akan menyerahkanmu kepada mereka. Sejujurnya aku mencurigaimu sebagai anggota komplotan, dan ingin sekali membunuhmu disini sekarang. Namun, demi nama baik istriku, tak akan kulakukan itu semua, dan akan kuserahkan semuanya ke polisi yang berwenang. Aku harap kau tidak perlu mengajukan izin sakit jiwa jika kelak polisi menangkapmu.’ Dia langsung beranjak pergi meninggalkan tamunya tanpa membayar maupun berkata apa-apa lagi. Laki-laki ini hanya tersenyum sinis memandangi sosok Segara melalui jendela yang ada di sampingnya. Nampak sosok Segara berjalan tergesa menyisiri trotoar tersebut menjauh dari kafe tersebut menuju ke perempatan jalan. Laki-laki ini dengan santai memanggil petugas kafe dan meminta bon tagihan. Setelah melihat bon tagihan tersebut, dilihatnya arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya, ‘silakan saja sesukamu Segara, jika kau merasa masih punya cukup waktu.’

 

Pemuda itu mengetuk pintu perlahan hingga kemudian perawat itu membukanya dan menyambut dengan senyuman ramah. ‘Silakan masuk, Tuan.’ Pemuda itu melangkah perlahan menyesuaikan dengan langkah wanita renta yang ia gamit lengannya, sementara perawat bergegas menyiapkan kursi bagi dua orang tamu ini untuk duduk. ‘Saya baru saja selesai mengganti infusnya Tuan. Mohon Tuan duduk sebentar disini, akan saya panggilkan dokter.’ Perawat itu bergegas pergi setelah si pemuda berterimakasih padanya. ‘Aku tak habis pikir. Dia menantu yang baik; kau sendiri juga sadar dengan hal itu kan. Betapa dia mencintai kakakmu. Mungkin saja dia merasa bersalah dalam kecelakaan mobil itu. Mungkin dia merasa bersalah karena harus kehilangan kakakmu dan calon bayinya disana, hingga dia terus terbenam dalam koma-nya ini. Aku benar-benar kasihan padanya, karena dia tak sepantasnya menyiksa dirinya sedemikian. Aku sama sekali tak marah padanya; aku malah ingin dia segera tersadar dan bisa meneruskan hidupnya dengan bahagia demi kakakmu juga.’ Wanita renta ini bergumam lirih dan terbata menahan tangis. Pemuda ini memeluk pundak ibunya. ‘Aku juga, ma. Aku mencintai baik Kak Anyelir dan Kak Segara sama besarnya. Mama tentu tahu betapa sedihnya aku ketika kabar kecelakaan itu tiba enam tahun yang lalu. Sama seperti mama, setiap kali aku kesini aku terus teringat dan dihantui soal itu. Aku juga berharap semoga Kak Segara bisa lekas sadar. Aku terus menemani mama merawatnya juga karena aku teringat betapa besarnya cinta Kak Anyelir pada Kak Segara. Namun, mama juga jangan terus terpuruk sedih begini; mama juga tahu kan betapa cintanya Kak Anyelir pada mama. Apa yang dirasa Kak Anyelir jika mama terus terpuruk selama enam tahun? Kini kita hanya bisa mendoakan dan terus merawat Kak Segara dengan penuh kasih sebagai satu-satunya keluarga yang tersisa. Namun kita harus ikhlas ma, jangan malah menyiksa hati kita.’ Wanita itu hanya terdiam terisak. Tak lama kemudian pintu diketuk, dan masuklah seorang dokter bertubuh kecil. ‘apa kabar, dok? Ada kabar baik apa tentang kakak ipar kami hingga memanggil kami kemari?’ sapa si pemuda sambil menjabat tangan dokter yang telah dikenalnya baik sejak enam tahun yang lalu. Dokter itu terdiam sesaat, sebelum berkata, “Maaf sekali Pak, Bu. Saya memanggil Bapak dan Ibu bukan untuk kabar baik. Sebaliknya, untuk sebuah kabar buruk. Pagi tadi, tanda kehidupan Tuan Segara melemah. Sejujurnya, meskipun beliau nampak tertidur tenang, saat ini kondisinya memasuki tahap kritis. Sepertinya Tuan Segara sudah siap untuk mengakhiri sendiri penderitaannya selama ini.’ Wanita renta itu menjerit dan menangis keras tanpa sanggup ia tahan, sementara pemuda itu hanya termenung kaku. Bukan soal kabar kakak iparnya yang akan meninggal yang mengejutkannya; ia sudah menyiapkan diri sejak lama. Tapi sesuatu yang tadi berkelebat di matanya, ‘Apa dokter ini tadi benar-benar tersenyum sinis ketika menceritakan kabar Kak Segara ini?’

 

Dalam hening malam, ia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. ‘Mengapa kulakukan itu?’bayangan lelaki yang perlahan kehilangan nyawa di tangannya terus berkelebatan di benaknya. Bayangan istrinya yang tampak sedih dan kecewa karena harus menyambutnya pulang sebagai pembunuh juga tak kuasa ia tepiskan. Ia tertawa, lalu berteriak, lalu menangis. ‘Sialan! Aku dipermainkan Izrail!’ Pistol, kertas coretan, dan lembaran foto sudah ia buang di pantai tadi ketika ia merokok sejenak setelah membunuh. Semula ia merasakan rasa damai dan tenang. Namun kini rasa damai dan tenang itu telah pergi; dan kekhawatiran, kesedihan, kemarahan, serta ketakutan terus berkecamuk di pikirannya. Kini ia coba mengusirnya dengan terus menginjak pedal gasnya dalam-dalam. ‘Apa yang harus kulakukan? Apa yang akan kukatakan pada Anyelir? Bagaimana aku melanjutkan hidupku? Sialan! Bagaimana ini bisa terjadi! Ah!’ ia gelisah dan menginjak pedal gas semakin dalam. Ketika ia mencoba menyalip kendaraan di depannya, dari arah berlawanan muncul truk pengangkut muatan yang juga melaju dengan kencang. Maka ia hanya bisa terbelalak terkejut tanpa bisa bereaksi apa-apa ketika mobilnya menghantam truk tersebut dengan dahsyat.

 

‘Apa yang terjadi?’ ‘Ada orang yang meninggal! Tewas seketika tertabrak truk!’ ‘Cepat telepon polisi dan ambulans?’ ‘mana sopir truknya ini?’ ‘bukankah dia orang yang baru saja keluar dari kafe itu?’ ‘Iya aku melihatnya keluar dari kafe tersebut tadi’ ‘Coba panggilkan petugas kafe, siapa tahu ada yang mengenalinya!’ Perempatan jalan yang biasanya ramai kendaraan yang melaju itu menjadi sedikit terhambat ketika terjadi ribut-ribut masyarakat karena adanya kecelakaan. Seorang pria tergopoh-gopoh masuk ke dalam kafe, dan berteriak. ‘Ada seorang lelaki berkemeja hitam, baru saja tewas tertabrak truk di perempatan jalan. Ada yang melihatnya baru saja keluar dari kafe ini. Apa ada yang melihatnya?’ sejenak pengunjung dalam kafe tersebut terdiam, dan kemudian saling bergumam. Apakah pengunjung yang tadi berteriak-teriak di pojokan itu? ‘Aku melihatnya. Tadi dia ada di pojokan sana bersama dengan seorang temannya.’ Sahut seorang pelayan wanita yang semula melayani mereka. Semua langsung seketika menoleh ke arah yang sama. Tidak nampak satupun orang disana, kecuali gelas yang belum diberesi dan secarik bon tagihan yang tertutupi oleh dua lembar seratus ribuan. Pelayan wanita itu menjadi bingung. ‘Bukankah beberapa saat yang lalu masih ada temannya disana?’

 

“Kruk..Kruk..Kruk” peti mati sudah diturunkan, pasir sedang diuruk. Kidung kematian masih disenandungkan perlahan. Pastur yang memimpin upacara pemakaman tampak letih; ia tak kuasa menahan haru dan sedih melihat bagaimana jemaatnya yang taat ini tampak begitu larut dalam kesedihan dan tak mampu mengendalikan emosinya. Ia tahu bahwa jemaat ini menikah dengan lelaki yang tak setaat dirinya. Namun ia tak habis pikir bahwa jiwa lelaki tersebut rupanya sudah setersesat itu. Bagaimana mungkin seorang lelaki bisa dengan tega bunuh diri meninggalkan istrinya yang sedang hamil muda? Ia merasa kasihan pada jemaatnya; sepantasnya ia mampu mendapatkan sosok laki-laki yang bisa mengasihinya dengan lebih baik. Menyaksikan gerak-gerik jemaatnya yang tampak begitu sedih dan kehilangan tersebut ia jadi bertanya-tanya; mengapa orang yang setaat jemaatnya ini bisa begitu kehilangan kendali emosi hanya gara-gara sosok jemaat yang tak taat? Sesaat ia ingin memarahi lemahnya iman jemaatnya; namun seketika ia tersadar bahwa ia sedang dalam tanggung jawab untuk memimpin upacara pemakaman tersebut. Maka, setelah ia membuat tanda salib dalam hati dan memohon ampun, ia kembali memusatkan perhatiannya dalam memimpin upacara pemakaman tersebut. Seluruh yang hadir disitu nampak larut mengikuti upacara dengan khidmat; kecuali satu orang yang berdiri agak menjauh dari kerumunan, yang terus memandangi si wanita dengan pandangan penuh makna dan senyuman sinis. Ketika upacara pemakaman berakhir, laki-laki ini mendekati Anyelir, dan menyapanya, ‘Nyonya Anyelir, saya turut bersedih atas kepergian Tuan Segara. Saya kenalan Tuan Segara.’

 

‘Selamat siang Dok.’ Dokter itu hanya tersenyum kepada para perawat yang menyapanya sambil berjalan tenang ke arah kantornya. Ia menghentikan langkah sejenak, lantas memanggil seorang perawat yang sedang berjalan sambil membawa beberapa lembar kertas di papan jalan yang ia peluk di dekatnya. ‘Suster, pasien no 18 bagaimana kabarnya?’ Suster itu berhenti sejenak, melihat pada lembaran kertas tersebut, kemudian tersenyum. ‘pasien favorit dokter ya? Masih sama seperti biasa, Dok. Dokter mau lihat?’ ‘Boleh, Sus.’ Dokter itu lantas urung memasuki kantornya dan mengikuti suster itu melangkah. Ketika sampai pada sebuah bangsal dengan pintu terbuka, suster itu mempersilakan dokter masuk duluan. ‘Sama dengan sebelumnya ‘kan Dok. Di pojokan sana.’ Di pojokan dekat dengan jendela, seorang pria hanya duduk terdiam memandang nanar ke arah luar. Di pangkuannya nampak sebuah buku catatan dan sebuah pulpen. Dokter itu menghampiri pasien tersebut sambil ditemani perawat yang berjalan di sampingnya. ‘Masih menjadi penyair ya, Segara. Sudah berapa sajak yang kau tulis untuk Anyelir?’ sapaan itu tidak dipedulikan pria berwajah muram yang duduk di pojokan tersebut. ‘kasihan ya Dok. Sudah ditinggal istrinya yang meninggal saat bersalin, bayinya tidak selamat, sekarang ia malah jadi gila. Sudah begitu keluarga istrinya kini tidak ada lagi yang mau mengakuinya. Malang sekali ya.’ Dokter itu tak menanggapi ocehan perawat itu. Ia mengambil buku catatan yang ada di pangkuan pasien itu dan membuka lembaran-lembaran di dalamnya. Pasien itu sendiri tidak mempedulikan si dokter, hanya terus memandang keluar. Epitaf Fantasi ya judul tulisanmu kali ini, Segara? Menarik sekali.’ Dokter ini meletakkan kembali perlahan buku tersebut di pangkuan pria murung tersebut, dan mengajak suster tersebut melangkah keluar. ‘Kalau suster tidak tahu cerita keseluruhan tentang pria tersebut jangan komentar sembarangan.’ Ucap dokter itu pelan sambil tersenyum sinis. Perawat itu hanya bisa menunduk malu, merasa bersalah dan meminta maaf. Perlahan, pria muram di pojokan tersebut mulai bersenandung lirih, ‘aku ingin berdua denganmu, tapi aku hanya melihat keresahanmu..’[iii]

 

Lihatlah dirimu yang masih tertegun dengan kisah yang baru disampaikan tukang cerita kepadamu. ‘kejam sekali ceritamu. Apa sudah selesai?’ kau bertanya pada si tukang cerita. ‘bagaimana menurutmu?’ jawab si tukang cerita sambi tersenyum sinis.

 

 

[i]  Dikutip dari Lagu Nothing to Fear. Whiteshoes and The Couples Company. Album: Self Titled

 

[ii] Dikutip dari Lagu In 1997 The Bullet Was Shy. Sore. Album:  Ports of Lima

 

[iii] Dikutip dari Lagu Resah. Payung Teduh. Album: Self Titled

Romansa Elegi

 Ia selalu teringat akan Air. tentang tarian kepedihan Air yang menyadarkannya akan arti keindahan. tentang nyanyi sedih Air yang juga mengingatkannya kepada suatu keindahan. juga tentang goresan luka Air yang kembali mengajarkan makna-makna keindahan. semua, semua tentang Air adalah tentang keindahan. Air menyapa duka, duka itu menjadi indah, dan indah itu Air, Air memeluk luka, luka itu menjadi indah, indah itu Air, Air mengayun bersama gelisah, Air berjingkat di antara derita, Air bermain-main dengan lara, dan Air bercengkrama dengan nestapa, lantas semua gelisah, derita, lara dan nestapa menjadi indah, dan indah itu selalu Air. Air menggenggam pasir, lalu pasir menjadi pasir Air, Air mengecap apel, lalu apel menjadi apel Air, Air membasuh dedaunan yang meranggas, dan dedaunan menjadi dedaunan Air. pasir, apel, dan dedaunan menjadi indah, karena semua tentang Air adalah semua tentang keindahan. 'Ah Air bagaimana aku bisa melupakanmu?'

 

laki-laki itu terdiam dalam gelap. tak ada lagi yang bisa ia rasakan selain sebuah ketiadaan. semua menjadi begitu sunyi, begitu dingin, begitu pekat. tak lagi darah ia rasa mengalir di tubuhnya, meski jantungnya masih memompa, dan meski semakin kencang. dia tahu, bahwa yang menarik kencang udara dan nafas yang tersengal itu adalah milik paru-parunya, dia mendengarnya, tapi dia tidak mampu merasakannya lagi. semua ingatan yang pernah ia rekam, terputar kembali di hadapannya begitu saja dan terpampang seperti layar tancap, walaupun ia tahu bahwa ia tidak mau dan tidak mampu untuk mengingat semua itu lagi. semua menjadi semakin sunyi, semakin dingin, dan semakin pekat. ternyata dia masih bisa merasakan dingin itu, meski dia tidak mau. ya, dingin yang semakin menusuk, dingin yang tak pernah ia rasa sebelumnya. ia ingin menggigil, ingin menangis, ingin berteriak, tapi dia hanya bisa terdiam. dia tahu, bahwa dia sudah tidak mampu lagi. telah datang apa yang selama ini ia benci dan ia singkirkan jauh-jauh dari hadapannya: bukan, bukan kematian, tapi rasa takut. ia sekarang takut, bukan takut pada kematian, tapi takut untuk takut pada kematian. rasa takut akan ketakutan, jauh lebih menakutkan daripada ketakutan itu sendiri. sepanjang hidupnya ia telah habiskan banyak waktu untuk mengalahkan dan membuang jauh-jauh rasa takut itu, dan itulah kebanggaan terbesar dalam hidupnya. tapi sekarang, telah datang rasa takut itu, hingga menghantuinya, memenuhi ingatannya, dan menguasai tubuhnya, menjadi hal terakhir dan satu-satunya hal yang ia ingat dan ia rasa di saat penghujung hidupnya, 'jadi hidupku ini memang hanyalah suatu kesia-siaan saja?' kali ini ia sanggup menangis. dan kembali, sayup-sayup terdengar dari jauh alunan musik tetangga, 'aku jatuh dan tak bangun lagi, tenggelam di rayuannyaaa...'

 

'apakah kau tahu tentang arti sebuah pengorbanan?' lalu Air melukiskan gurat derita itu pada sebuah batu, Air menyelusup masuk bersama debu menembus pori-pori tubuh, mengayun lembut menuju jantung, menggoreskan namanya pada sekat jantungnya, kemudian menari sedih lagi di hati, hingga meracau pilu bersama paru-paru, di setiap detik perjalanannya Air berkawan dengan zat asam, bertanya-tanya mengapa zat asam mau menghamba pada manusia, kemudian Air bermain-main dengan kelamin,dan tak lupa ia mampir menyapa sperma, dan kemudian membicarakan alasan mengapa sperma bisa menjadi sari pembawa kehidupan, lantas Air kembali menjamah setiap jengkal badan, meninggalkan semuanya menjadi milik Air, hingga ia memahatkan memori tentangnya di dalam isi tengkorak dan tanpa sadar telah terhapus segala kenangan lain, lalu Air berjalan keluar menyelinap di antara retina dan kornea, mengecup kening dan membisikkan kata yang akan selalu terngiang di benaknya, 'apakah kau akan selalu mencintaiku?'

 

laki-laki itu duduk termenung di sudut kamarnya. dalam diam, dirasakannya nafasnya semakin memburu. tak ia pedulikan asap rokok yang sedari tadi mengepul tanpa pernah dihisap semenjak ia bakar, yang terus memanggil-manggil namanya dan tak lelah untuk memeluknya dalam kamar yang pengap dan sempit itu. namun laki-laki itu acuh. pikirannya telah terpusat pada rentetan kejadian tadi sore. pada apa yang ia alami selama perjalanan pulangnya. 'apakah itu semua nyata?' 'apakah itu semua memang suatu kebenaran?' 'apakah selama ini merupakan kebohongan belaka?' 'apakah itu kebodohan?' 'apakah yang harus kuperbuat?' 'dan apakah yang harus kupercaya?' 'apakah jangan-jangan aku ini memang tidak nyata?'

 

kau mengejawantah menjadi tafsir alam atas setiap ayat tuhan yang turun dalam rinai hujan yang membasahi tanah, meniupkan kehidupan pada benih-benih tetanduran, menjadikan segala kekosongan dan ketiadaan adalah sebuah keberadaan baru di muka bumi, lalu menjelma menjadi atom yang menyusun molekul unsur-unsur di semesta raya, menjadikan engkau segalanya dalam setiap hal, mengalir deras dalam pusaran waktu dan menelusup masuk keabadian dunia fana, memelukku dalam peluhmu dan bawa aku mengangkasa, bersama kidung senja yang dinyanyikan dalam selubung awan dan lantunan tasbih yang mengalun dibalik tabir malam, membebaskan aku menari bersama rasi orion yang kau rangkaikan untukku sementara kau bercakap dengan kumpulan komet yang melintas dari galaksi lain, tentang ketidakadilan semesta karena menganugerahi bumi lapisan atmosfer yang kaya akan kehidupan. kau hamburkan untukku segala kebahagiaan itu meski aku sebutir debu yang terlupakan. apa lagi yang bisa kuharapkan darimu.

 

pisau dapur itu telah berada dalam genggamannya. apa yang selama ini ia rasa hanya kekosongan belaka. apa yang selama ini ia percaya hanya kebohongan semata. dihisap untuk pertama dan terakhir kalinya rokok yang sedari tadi mengganggu itu. 'kasian,' pikirnya sambil memandangi puntung rokok yang jadi sahabat hidupnya, 'kau diciptakan dari ketiadaan, menjadi sebuah keberadaan, hanya demi berakhir dalam sebuah ketiadaan lagi. lalu apa arti hidupmu? apakah hidupmu sudah terpuaskan jika kau bisa terhisap oleh manusia?' 'tidak.akulah yang lebih kasian. karena ternyata arti hidupku, seorang manusia, tak ada bedanya dengan arti sebatang rokok. itupun jika memang aku ini hidup.' dialihkan pandangannya pada sebilah pisau yang ia genggam itu. dia hanya tersenyum ketika pisau itu mulai mengelus-elus pergelangan tangannya. 'akhirnya aku akan tahu apa yang dirasakan oleh apel ketika ia terkupas kulitnya.' dalam satu tarikan nafas, benda berkilat itu lantas berayun dan mengiris urat nadinya. ketika ia lihat darah mulai mengalir, dan semakin deras, pikirannya kosong. ia hanya terdiam. 'jadi ini rasanya. kok dingin sekali ya?' dan sayup-sayup terdengar dari kejauhan, alunan musik tetangga, 'Cahya surya menyinari, menyiramii sanubariii..'

 

malam semakin pekat, dan jalan semakin sepi, namun laki-laki itu tetap meneruskan langkahnya, berusaha mengacuhkan sosok asing yang tiba-tiba menyeruak di hadapannya dan memanggil namanya setelah ia tak jauh keluar dari terminal,sosok yang tak ia kenal wajahnya dan tetap diam saja hanya memanggil-manggil namanya, kendati tadi sempat ia ajak bicara dan ia balas panggilannya itu. sosok itu terus saja memepet dan mengiringi setiap langkahnya, membuatnya semakin terganggu juga. ditengoknya kiri-kanan, akhirnya ia menghentikan langkahnya tak jauh dari ujung simpang jalan, setelah ia rasa daerah sekitar sepi, kecuali dua orang gelandangan yang berada di emperan toko di ujung seberang jalan. setelah sekali lagi memastikan jalanan sepi tak ada pengendara maupun pejalan, dia berbalik menatap tajam ke arah sosok asing ini, bersiap dengan segala kemungkinan termasuk jika harus berhadapan dengan garong. 'siapa kau?' 'aku adalah izrail' 'haha! gila kau!' 'tidak. aku tidak gila. aku izrail.' dia meneruskan langkahnya. ternyata hanya orang gila. 'menyingkir kau! jangan ganggu aku!' 'jika kau menganggap aku merupakan suatu kebohongan, maka kau salah' 'tidak! pergi kau! aku tidak percaya padamu! enyahlah kau segera!' 'ketahuilah bahwa..' 'kau bau! menyingkirlah jauh-jauh..' 'dari semua manusia, kau adalah golongan terlaknat..' 'aku tidak percaya padamu! jika kau memang kematian, maka akan kuteriakkan padamu, kau adalah dusta terbesar, sama palsunya dengan..' 'Tuhan, kau akan membusuk selamanya di neraka. tak akan peroleh..' 'surga yang abadi. dosa-pahala omong kosong!semua semu! sama halnya dengan..' 'ampunan-Nya. abadilah kau dalam penderitaan dunia dan..' 'akhirat, semua itu sama seperti candu! melenakan. buta akan..' 'kematian, yang telah datang padamu. dan tiada guna penyesalan, siksa yang kekal telah menghampar di kubur dan akhiratmu.yakinlah, karena aku benar adlaah kematian itu sendiri' laki-laki itu menghentikan langkahnya. dia berusaha menenangkan diri, sadar bahwa terpancing kelakar murahan ini. akhirat? tuhan? siksaan? kematian? malaikat maut? apakah ini orang gila yang kerasukan ajaran agama? mengapa tadi aku bisa terpancing dan percaya omongannya?dia perhatikan sosok yang kini berdiri di hadapannya.terbayang olehnya dongeng masa kanak-kanak tentang malaikat maut yang datang menjemput. dan terbahak-bahaklah ia mengingat itu semua.

 

'Dengarkan apa kataku!' 'Apa lagi yang harus kudengar darimu? Semuanya sudah cukup! Semuanya sudah jelas!' 'Belum! Kau belum mendengar..' 'Persoalannya sudah jelas! Semenjak dulu hingga sekarang. Kaulah yang tak mau mengerti! Kaulah yang tak pernah mau berpikir, melihat, dan mendengarkannya! Bukan aku, tapi engkaulah yang jadi biang permasalahan selama ini!' 'Kau tidak mengerti, kau belum tahu bahwa...' 'Sudah cukup aku sudah muak lagi melihatmu! Aku capek mendengarkan ocehanmu! Enyah!' sesaat antara laki-laki itu dan wanita yang berdiri di hadapannya, keduanya terbenam dalam diam. namun, sejurus kemudian wanita itu mendengus kasar, dan bergegas berbalik meninggalkannya tanpa sepatah katapun terucap, dan melangkah di balik pintu yang terbanting keras di hadapannya. laki-laki itu hanya memandangi wanita itu dengan tatapan nanar menembus jendela, namun wanita itu tak sedikitpun membalas tatapannya, sebaliknya hanya menggumam kasar dan tidak jelas, sembari berusaha menutup gorden. lama gorden itu tertutup, namun akhirnya ia tersibak lagi ketika wanita itu mengintip keluar dari celah yang ada. akhirnya wanita itu membalas tatapan si lelaki, namun hanya pandangan jijik dan menusuk yang dia terima sebelum si wanita melangkah kembali ke dalam rumah untuk meninggalkan laki-laki itu terbenam dalam kesendiriannya. 'kau belum tahu sepenuhnya dan belum mengerti semuanya. kau tidak tahu betapa aku mencintaimu. kau tidak sadar akan itu, Air.' Sayup-sayup terdengar nyanyian melantun dari radio di dalam rumah, 'kancingku mulai beku, kakiku merambat layuuu..'

 

laki-laki itu memandang sinis dan meremehkan, namun tetap masih menyimpan banyak pertanyaan di benaknya.'apa maumu?' 'aku hendak mengingatkanmu.' 'akan kematianku?' 'ya. tiga hari dari sekarang. kecelakaan lalulintas, terlindas truk.' 'apakah aku bisa merubah kematianku jika pada hari itu aku sama sekali tidak beranjak dari tempat tidurku?' 'sebuah kemustahilan dan keyakinan bodoh. kau bisa merubah hidupmu, memilih jalanmu, tapi kau tidak bisa merubah kematianmu maupun memilih bagaimana kau akan mati.' laki-laki itu tersenyum sinis, meski dahinya berkerut juga. apa maksudnya? apa yang dia inginkan? mengapa orang gila ini begitu terpukau tentang ajaran kematian dan menguliahinya tentang konsep dunia-akhirat? dan mengapa ia malah semakin percaya pada omong kosong ini? berulang kali ia berusaha memikirkan semuanya dengan lamat-lamat, dan mencerna apa yang dikatakan sosok asing ini. ia tak peroleh jawaban. dia ingin segera menyingkir, namun tampaknya sedikit menikmati gurauan bocah ini seru juga, lagipula dia masih belum menemukan sebuah jawaban yang tepat dari peristiwa dadakan ini. berusaha santai, ia bersandar pada tiang lampu jalan, dan mengambil sebatang rokok kretek dari dalam saku kemejanya. 'mau rokok?' dia sodorkan bungkus rokok yang isinya tinggal separuh itu pada sosok asing ini. 'apa maksudmu? apa kau masih tidak mempercayaiku bahwa aku malaikat maut?' 'apakah salah jika malaikat maut merokok? bahkan malaikat pun ada yang berzina dan berbuat dosa.' dia hanya bersandar terdiam, dan berulangkali menghisap rokoknya dalam-dalam.

 

'bagaimana kau akan mengingatku?' 'aku akan selalu mengingatmu seperti embun merindukan datangnya fajar, hingga ia tak pernah ada kecuali datang pagi untuk mengecupnya.' 'bagaimana kau mencintaku?' 'aku akan mengasihimu seperti kasih bumi pada langit, yang selalu menantikan pelukan langit, meskipun sadar pelukan langit adalah tanda kehancuran hidupnya.' 'bagaimana kau akan menjadikanku?' 'aku akan menjadikanmu sebagai senyawa bahagia yang mengalir dalam darahku, hingga ketiadaan dirimu menjadikan hidupku terlarut dalam kedukaan - seperti sekarang.'  'mengapa kau bisa mencintaku sedemikian rupa?' 'karena kau adalah Air.'

 

sekali lagi, dia hisap rokok itu dalam-dalam, dan dia hembuskan perlahan. 'lalu, mengapa kau menghampiriku seperti ini? apa kau selalu melakukannya ke manusia-manusia lain?' 'tidak. aku memang menghampiri manusia-manusia lain beberapa hari sebelum mereka menemui ajalnya. namun aku jarang sekali menampakkan diri sedini ini.' 'lantas mengapa kau muncul di hadapanku? apakah aku ini adalah seorang nabi, hingga peroleh keistimewaan berjalan-jalan dengan malaikat maut?' 'apakah kau memang selalu bertindak bodoh seperti itu?' 'apakah kau selalu bertindak bodoh dengan menanyakan hal-hal yang nyata sekali kebodohannya?' 'jadi apa tujuanmu datang di hadapanku? dan apa tujuanmu tiba-tiba datang menguliahiku tentang dosa, kematian, siksa akhirat, dan tentang tuhan?' 'kau tahu, aku selalu bertanya-tanya mengapa pendosa seperti kalian selalu besar mulut dan mendustakan Tuhan sepanjang hidupnya, namun ketika kematian itu datang, atau bahkan ketika kalian menanggung azab kalian itu di akhirat, kalian semua berteriak-teriak, menangis menghiba memohon ampun dari Tuhan, sesuatu yang tak akan pernah kalian terima, dan tak kalian percaya sepanjang hidup kalian. dan kau, adalah salah satu pendusta besar Tuhan yang kematiannya paling dekat, oleh karena itu aku ingin melihat langsung apa reaksimu jika aku menampakkan diri terlebih dulu di depanmu.' 'oh, begitu ya.' laki-laki itu kembali terdiam, dan malah asyik dengan rokoknya. kemudian dia hisap dalam-dalam rokok itu untuk terakhir kalinya, lantas dibuangnya ke tanah dan ia injak hingga mati. ia memandang kosong ke langit sejenak kemudian menatap sosok asing di depannya, 'aku akan mati? menghadap tuhan? tapi bukankah tuhan telah mati terlebih dulu?'

 

langkahnya semakin tergesa, namun tetap dengan penuh waspada menghindari genangan air sisa hujan yang mengguyur tadi siang. suasana hatinya begitu riang, ia menapakkan kakinya dengan begitu mantap dan gembira. akhirnya, akhirnya dia bisa menemui pujaan hatinya itu secara langsung. akhirnya dia tahu alamat wanita yang selama ini ia idamkan itu. pandangannya menerawang ke atas, menangkap langit senja yang semburat ungu karena bercampur dengan sisa awan mendung. amboi indahnya, tampaknya terberkatilah ia dan kasihnya itu, begitu pikirnya. semakin rianglah langkahnya ketika harapan-harapan itu kembali membuncah, terutama jika dia ingat lidah-lidah beracun yang menjulur dari rekan kerjanya. 'hentikanlah, dia bukan milikmu.' 'lupakanlah saja dia.' 'dia bukan kekasihmu.' 'dia bukan siapa-siapamu.' 'hei, dia bahkan tidak mengenalmu!' akan dia tunjukkan kemenangan itu dalam genggamannya, sama ketika dia mengenggam puas kertas bertuliskan alamat yang akhirnya ia peroleh setelah melalui penelusuran panjang.

 

dia meneruskan langkahnya, berhati-hati agar tidak menginjak kubangan air yang menggenang di jalan. kubangan sisa hujan, ah ya, hujan pun selalu mengingatkannya pada wanita itu. hujan yang sama, yang mempertemukanku dengannya untuk pertama kali? apakah ini pertanda baik? terbayang jelas saat wanita itu berteduh di depan kafenya bekerja sewaktu hujan turun. gerakannya yang gemulai saat wanita itu berusaha mengeringkan tubuhnya, mengibaskan-ibaskan rambutnya, kemudian menyapukan lembaran tisu untuk menyeka wajahnya. ia bagaikan melihat bidadari hujan sedang menarikan keindahan dihadapannya. begitupula saat ia pertama melihat wanita itu masih berlarian tergesa menghindari hujan, dan ketika wanita itu berjalan dengan anggun ketika cerah mulai tiba. entah cerah, entah hujan. baginya semua adalah elemen pendukung keindahan gerakan bidadari elok. dan jantungnya selalu berdesir jika membayangkan itu semua.

 

'kau adalah Air, kau adalah keindahan. semua tentangmu adalah tentang keindahan, karena kau Air.' begitu yang ia tulis dalam setiap puisi yang ia rangkai bagi sang wanita. 'kau adalah sumber kehidupanku, mengalir dalam setiap darahku, karena kau adalah Air, sandaran jiwaku, dan ketiadaanmu meniadakan keberadaanku.' selalu kata-kata tersebut membanjir benaknya dan kata-kata itu pula yang selalu ia tuliskan di setiap lembaran kertas kosong. baginya tiada hari tanpa terkenang akan Air. 'kau bilang dia air? apa karena kau bertemu dengannya dikala hujan turun?' 'atau karena nama aslinya Ria?' selalu kata-kata yang melemahkan yang keluar dari mulut busuk rekan kerjanya itu. 'Tidak. Dia Air karena memang dia adalah Air. Karena Air adalah keindahan, dan keindahan adalah ia. Dan biarkan aku menjadi Pasir yang selalu merindukannya dan rakus akan cintanya.' 'Hei, buat apa kau mencintanya sedemikian dalam?' 'untuk apa kau memujanya begitu tinggi?' 'Kau bahkan tidak mengenalnya begitu baik!' 'Dia bahkan tidak mengenalmu!' 'Kalian bahkan tidak pernah bercakap satu kata pun!'

 

'mengapa kau bisa tidak percaya akan Tuhan?' 'mengapa aku harus percaya tuhan?' 'kau malaikat, kau yang lebih tahu alasan mengapa aku bisa tidak percaya tuhan.' 'Aku benar-benar tidak bisa memahami pemikiranmu. Aku benar-benar tidak bisa memahami manusia.' 'kau pikir aku bisa?' untuk beberapa saat keduanya hanya berdiri mematung dalam diam. 'sudah berapa banyak manusia yang mati?' 'maksudku, berapa banyak manusia yang telah kau cabut nyawanya sementara kau malah ada di sini, di hadapanku, berdiri terdiam hanya untuk menyaksikan aku merokok saja.' 'ada 59.307 jiwa. ah sekarang, 59.308 jiwa.dan lihat gelandangan yang ada di seberang sana, yang hendak menyantap nasi bungkus itu, dalam beberapa detik lagi ia akan mati sakit jantung, menjadi orang ke 59.309, yak, satu, dua, tiga.' dari kejauhan laki-laki itu berusaha menangkap arah yang ditunjukkan sosok yang dihadapannya itu. dan benarlah, nampak olehnya sosok gelandangan yang sedang duduk di emperan ujung kejauhan seberang jalannya dan memegangi nasi bungkusnya, tiba-tiba jatuh terkapar dan memegangi dadanya. sejenak laki-laki itu terpikir untuk menghampiri gelandangan itu, tapi diurungkan niatnya ketika dia lihat ada gelandangan lain yang tiba-tiba menghampiri sosok yang terkapar, gelandangan yang semula nampak mengorek-ngorek tempat sampah di seberang emperan toko itu. laki-laki itu lantas kembali terdiam. dia malah menyalakan rokoknya lagi. 'apa kini kau percaya padaku? percaya bahwa aku malaikat maut?' laki-laki itu tertawa. 'haha, meskipun pada akhirnya kau memberikanku buku kematian, bagiku kau dan idemu tentang mati karena sakit jantung itu tetaplah suatu rekaan buat anak-anak.'

 

nafasnya terengah-engah, jantungnya berdegup kencang. dia lempar pandangannya ke seisi rumah itu dengan penuh kepanikan. kepalanya pening jika dia mengingat kejadian yang baru saja terjadi. 'apa yang telah kulakukan?' 'mengapa aku bisa sedemikian bodohnya?' 'bagaimana ini semua bisa terjadi?' segera dia bergegas memeriksa seisi rumah dan mengecek keluar melalui gorden jendela, khawatir jika ada yang melihat perbuatannya tadi. setelah sekali lagi memastikan tak ada yang melihat perbuatannya tadi, dia duduk lemas bersandarkan tembok. 'ini salahmu, bukan salahku! seandainya kau mau mendengarkan apa yang mau kukatakan! seandainya kau mau sejenak saja berbincang akrab bersamaku seperti yang kupinta! ini semua salahmu!' dia pandangi dalam-dalam wanita yang telah terbujur kaku di lantai itu. 'tidak, ini salahku! mengapa tadi aku ngotot memaksa masuk! mengapa tadi aku mencekiknya! mengapa tadi aku malah bergegas kemari hanya untuk menemuinya dan bercakap dengannya!' dia pejamkan matanya, kemudian ia dongakkan, menarik nafas dalam-dalam, dan ia bentur-benturkan kepalanya ke tembok di belakang.

 

beberapa saat kemudian ia buka kembali matanya dengan pandangan berkilat dan senyum menyeringai. 'tidak ini salahnya! ini salahnya karena ia membiarkan aku masuk! ini salahnya karena percaya padaku, pada tangis menghibaku! ini salahnya karena tidak waspada!' 'ya, ini salahnya! ini salahnya karena ia telah menodai hakikat Air! ia telah berpura-pura menjadi Air, padahal ia bukan Air! ya, yang telah mati ini hanya manusia biasa, manusia hina yang tak pantas kucinta! Sementara Air masih hidup! Air tetap kekal dan aku masih bisa merasakannya dalam darahku! Lihat, segenap tubuhku masih mencintanya dan memanggil-manggil namanya! Air! Air!' dengan penuh semangat laki-laki itu bangkit dari duduknya. sejenak sebelum ia melangkah keluar dari pintu rumah itu, ia menoleh lagi melihat wanita yang terbujur kaku itu. darahnya kembali berdesir ketika memandangi sosok wanita itu. 'apakah engkau seorang bidadari yang sedang terlelap?'dia memandang dengan penuh kasih 'tidak! dia bukan bidadari! dia tidak pantas menyandang kesucian bidadari!' sejurus kemudian pandangannya berubah menjadi pandangan liar. kembali dia tersenyum menyeringai puas. dia urungkan niatnya untuk melangkah keluar. sebaliknya kunci kembali pintu rumah itu, kemudian dia menggeletakkan badannya, berbaring menindih wanita yang telah menjadi mayat itu, dan dengan beringas melepaskan kancing dan pakaian yang masih menempel. dan dari radio yang masih mengalun terputarkan alunan,  'tak usah dimasalahkan, kau yang kupujaaa...'

 

laki-laki itu terdiam sejenak. ia memandang kosong ke jalanan yang sunyi itu dan ke langit malam yang masih digelayut mendung. wajahnya menampilkan ekspresi kenikmatan setiap ia menghisap rokok yang baru ia bakar itu. akhirnya ia beranjak dari sandarannya di tiang lampu jalanan itu dan ia setelah menarik dalam-dalam lagi, akhirnya ia berkata pada sosok asing ini, 'dengarkan aku, hei tukang cabut nyawa. mungkin banyak orang yang percaya padamu, percaya akan tuhan. banyak juga orang yang takut kepadamu, takut akan tuhan. tapi aku memilih untuk tidak percaya. aku memilih untuk tidak takut. karena rasa takut itu merupakan penghalang terbesar dalam hidup ini. termasuk rasa takut akan maut, dan rasa takut kepada tuhan. dan aku dengan bangga bisa mengatakan kepadamu, bahwa aku telah berhasil mengalahkan rasa takut itu sepanjang kehidupanku, termasuk ketakutan akan ketakutan yang seringkali lebih besar dari ketakutan itu sendiri. maka dari itu, jika kau datang memperingatkanku tentang kematian dan siksa yang akan aku terima, maka aku sama sekali tidak takut. lagipula tidak perlu menunggu tiga hari lagi, sebenarnya hidupku telah berakhir semenjak tiga jam yang lalu. oleh karena itu, jika kau hendak datang kepadaku tiga hari lagi, maka datanglah, akan kusambut kau dengan baik. namun sebelum itu, biarkan aku yang menghampirimu terlebih dahulu sebelum kau datang menjemput. karena aku sendiri sudah muak dengan segala omong kosong yang ada dalam kehidupan ini.dan oh ya kutinggalkan untukmu kenikmatan dunia yang mungkin tak kau peroleh di alam sana. kau bisa coba bakar itu dengan api neraka, bisa menyala atau tidak. kalau tidak, maka kau harus modal: belilah di warung di bumi. paling hanya seribu rupiah.'  segera setelah mengambil sebatang rokok lagi dan ia masukkan ke saku kemejanya, ia lemparkan bungkus rokok yang tadi masih separuh itu ke malaikat maut dan beranjak pergi, tak mempedulikan lagi apa yang hendak dikatakan sosok asing itu, dan masihkah mengikutinya. terlalu banyak gagasan yang berseliweran di pemikirannya. dan ketika dia mendongakkan kepalanya ke atas, kemudian dia menangkap baliho iklan yang menampilkan mobil berwarna merah, dia teringat akan apel yang selalu ia konsumsi tiap pagi, ia teringat akan pisau yang biasa ia gunakan untuk mengupas apel, dan akhirnya terlintaslah di benaknya sebuah gagasan cemerlang yang semenjak tadi ia nantikan kemunculannya.

 

'selesai.' tutup tukang cerita mengakhiri kisahnya. dan lihatlah dirimu yang masih duduk terkesima mendengarkan kisah yang baru saja disampaikan tukang cerita kepadamu. 'apakah tadi memang benar sebuah kisah cinta dan kisah kehidupan sesuai yang aku pinta?' kau pun bertanya. dan tukang cerita hanya menjawabmu dengan seulas senyuman.

 

-Depok. Kuartal 1 2011-

Ode to A Woman

 she is gone and nothing is left but groan

nor hope nor love remain in thy suffered mind

shrink thy sweetest smile into a mournful moan

sprinkle thy heart and fill with sore and pain

but still, still love her in deepest

called her name in thy dreams,

tried to take her back in thy breath,

yet, to love her and to be loved is the hardest

'O, Time, why wouldst thou left me in thy stream?'

'O, Life, should I have to make love with the Death?'

 

nay, thy grievance, thy lament may never been ceas'd

though in thy solitude, thy soul withered like a leaf

but ay, what thou hast seen just a delusion

of a heaven's angel who never been reach'd

of a morning's cloud that never been relieve

and still, still hope for thy redemption

 

Look,deep upon heedless sight of thine eyes

There always a love that never dies

 

- Alamsyah Lam. March 2011