'bagaimana kau akan mengingatku?' 'aku akan selalu mengingatmu seperti embun merindukan datangnya fajar, hingga ia tak pernah ada kecuali datang pagi untuk mengecupnya.’ Anyelir, engkaukah itu yang menyapaku dalam sunyi? 'bagaimana kau mencintaku?' 'aku akan mengasihimu seperti kasih bumi pada langit, yang selalu menantikan pelukan langit, meskipun sadar pelukan langit adalah tanda kehancuran hidupnya.' Anyelir, takkah kau rasa pekat yang mendekap dalam kehampaan kita? 'bagaimana kau akan menjadikanku?' 'aku akan menjadikanmu sebagai senyawa bahagia yang mengalir dalam darahku, hingga ketiadaan dirimu menjadikan hidupku terlarut dalam kedukaan - seperti sekarang.' Anyelir, mendekatlah, akan kubisikkan kepadamu nyanyian senja untuk terlupa dari segala melankolia fana yang membius ini 'mengapa kau bisa mencintaku sedemikian rupa?' Kemarilah Anyelir, kan kudekap kau erat hingga bersama kita tersesat dalam relung tak berujung. Kemarilah Anyelir, mendekatlah.
“Lit me a light of fire that light up and circle round my heart’[i]iringan musik yang diputar dari nuansa kafe tersebut berhasil memecah konsentrasinya. Sudah 10 menit ia hanya duduk termenung di kafe tersebut tanpa tahu apa yang harus ia katakan. Begitu banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan pada sosok yang saat ini duduk di depannya dan menatapnya dengan tatapan penuh makna dan senyum yang terkesan sinis mengejek. Matanya tak henti berpindah dari sosok di depannya ini, kemudian berpindah lagi ke lembaran foto yang sedari tadi ia pegang, yang diserahkan laki-laki itu, bersama dengan selembar kertas penuh dengan coretan yang ia tak mengerti, yang ia geletakkan di samping cangkir kopinya. Dia ingin sekali merokok, pikirannya sudah penuh kabut; tapi karena mereka saat itu ada di dalam ruangan yang dilarang merokok, maka ia hanya bisa berulang kali menghela dan menghembuskan nafas dalam-dalam. 30 menit dia sudah dalam kafe itu. 20 menit mendengarkan celoteh orang asing yang ada di depannya ini, dan 10 menit ia hanya terdiam. Sebelumnya ia merasa 30 menit merupakan waktu yang tak akan terasa cukup jika dihabiskan minum kopi; tapi kini dia merasa telah menyia-nyiakan setiap menit yang berharga jika ia hanya duduk terdiam di sana. Maka, untuk yang kesekian kalinya ia menghela dan menghembuskan nafas dalam-dalam, diletakkannya lembaran foto yang semula ia pegang itu di atas lembaran kertas yang penuh coretan. Matanya terus menyelidik sosok yang ada di depannya. Sejenak ia ingin meminum kopi yang tersaji di depannya, tapi ia lantas tersadar bahwa kopi tersebut sudah habis sejak 5 menit yang lalu. Maka, sekali lagi, ia hanya bisa menghela napas, dan baru dia bisa bersuara lagi.
“Dor! Dor! Dor” Tiga kali suara pistol itu menyalak; meskipun sudah ia pasang peredam namun ia merasa letupannya bagai musik orkestra yang memekakkan telinga. Ia memandang dengan penuh kebencian pada sosok di depannya yang langsung terkulai begitu timah panas itu menembus perut dan dadanya. ‘Mengapa?’ ia bisa mengerti, mungkin itulah pertanyaan yang hendak diucapkan laki-laki ini di akhir ajalnya, meskipun tak satu katapun terucap. Tapi ia memilih diam, membiarkan laki-laki ini tersiksa dengan pedih di tubuhnya, dan juga tersiksa dengan beragam pertanyaan. Ia sangat menikmati melihat sosok di depannya ini menderita. Lalu ia tembakkan dua butir peluru di masing-masing lutut laki-laki itu. ‘Akh! Akh!’ setiap teriakan kesakitan itu membuatnya bahagia, seperti ia mendengar kembali lonceng pernikahan yang dulu ia nantikan. Matanya berkilat-kilat, senyumnya merekah; ia sangat bahagia! Lalu ketika ia rasa nafas lelaki di depannya semakin melemah, ia kembali menyiapkan pistolnya lagi, dan mengarahkan ke pangkal selangkangan lelaki itu. ‘Aku tak tahu apa kau mengerti atau tidak tentang apa yang kuperbuat, juga tentang yang kau sendiri perbuat. Tapi tahu atau tidak, itu tidaklah penting lagi. Karena aku harus melakukannya. Pengecut seperti kau harus mati di tanganku.” Dan Dor! Peluru terakhir menyalak tepat di arah yang ia todongkan, merenggut keping nyawa terakhir lelaki itu, bersama teriak kesakitan yang tercekat di pangkal tenggorok. ‘Sinful recognition in my life goes without no one’[ii]ia bisa mendengar lagu yang sedang ia putar di ponsel yang ia simpan di saku kemejanya, namun ia tak bisa mendengar tangisnya sendiri.
Wanita renta itu menghentikan langkahnya. Ia tak kuasa untuk menapakkan kaki lebih jauh lagi. Untuk kesekian kalinya ia harus menyeka air matanya. Pemuda yang semula menggamit lengannya dan membimbingnya melangkah, hanya bisa berdecak kesal ‘mau sampai kapan mama begini terus? Sudah tujuh tahun berlalu, tapi mama tetap terus menangis dan bersedih. Apa mama pikir aku tidak ikut merasa kehilangan juga ma?’ wanita itu terus menangis sesenggukan. ‘kau tidak akan pernah mengerti rasanya, nak.’ ‘bagaimana aku bisa tidak mengerti ma? Mereka keluargaku juga ma! Dia kakakku yang paling kusayang, ma! Aku juga kehilangannya!’ wanita itu hanya terdiam menahan tangis; dan tercipta keheningan sesaat diantara mereka berdua. Melihat ibunya menahan kesedihan yang mendalam, dirangkulnya pundak wanita itu. ‘sudahlah ma, demi kakak juga, ayo kita tetap menjenguk dan merawat kakak ipar. Kakak pasti juga tidak suka kan jika dua orang yang ia cintai terus bersedih kehilangannya.’ Wanita itu tidak berkata apapun, namun dia mulai melangkahkan kakinya kembali. Melihat itu si pemuda tersenyum, dan digamit lengan ibunya itu. Begitu memasuki lobi rumah sakit, si pemuda menyapa perawat yang dikenalnya dengan ramah, ‘siang suster. Apa ada kabar baik mengenai kondisi kesehatan kakak ipar saya, sus? Apa kesadarannya sudah pulih?’
‘Yuk, nanti weekend kita jalan liburan ke luar kota.’ ‘Hei, lihat, ini ‘kan model sepatu yang waktu itu kamu mau. Lagi ada diskon, lho!’ ‘Eh sini deh, liat dong, kue bikinan aku. Mau coba ngga? Coba ya, nanti bilang enak ya’ ‘Ayo dong semangat, jangan males-malesan dong, kan sudah mau jadi ayah’ ‘Oh jadi kamu suka ama aku? Hm gimana ya, aku harus ngejawab apa ya, hihi’ ‘Tau ngga kemarin waktu lagi jalan apa mama di mall, aku denger salah satu lagu band favorit kamu. Entah kenapa aku jadi keinget kamu yang kaya anak kecil deh kalo ke konser’ ‘Hal yang paling aku suka dari kamu adalah sifat optimistik dan positive thinking kamu. Ajari aku ya biar bisa kaya gitu terus’ ‘Hai, kenalin. Namaku Anyelir.’ ANYELIR! Dia berteriak terbangun dalam tidurnya. Dilihat sisi ranjangnya yang kosong. Ia teringat betapa dulu istrinya senang menggodanya ketika malam tiba, betapa dulu istrinya senang memainkan rambutnya di sisinya menjelang tidur, dan betapa istrinya senang menirukan pose kucing yang malas bangun ketika pagi tiba. Ia menyapu mata ke seluruh sudut kamar. Ia teringat betapa dulu istrinya yang ngotot untuk melakukan desain interior sendiri dan selalu sibuk dengan perabotan apa yang tepat untuk mengisinya. Ia teringat segala pertikaian kecil di antara mereka ketika mengisi rumah mungil itu. ‘ini cocok ditaruh disini’ ‘warna ini yang paling tepat disejajarkan dengan warna itu.’ ‘merk ini yang paling bagus kualitasnya.’ Segala pertikaian-pertikaian kecil yang diakhiri cumbuan mesra yang mendamaikan keduanya. Hal-hal kecil yang selalu luput dari matanya bisa dilihat jelas oleh istrinya. Ia sedikit tersenyum, ketika teringat kembali bagaimana repotnya dia harus meladeni segala permintaan istrinya menjelang pernikahan mereka dulu. Kini, ketika dia tersadar kembali bahwa segala kebahagiaan hidupnya telah hilang, ia hanya bisa berteriak sendiri dalam keremangan malam; merutuk ketakberdayaan dan ketakberuntungannya. Dan entah telah berapa lama ia masih tak bisa tidur ketika malam menjelang hingga pagi menyapa; ia sudah tak mampu menghitungnya.
‘Aku tak bisa mempercayainya.’ ‘aku juga tak minta kau untuk percaya.’ ‘apa yang kau harapkan dariku?’ ‘apa yang bisa kuharapkan darimu?’ ‘perlukah pertemuan kita ini diteruskan?’ ‘apakah menurutmu perlu untuk diteruskan?’ ‘mengapa kau menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lain?’ ‘mengapa kau harus bertanya kepadaku jika kau sendiri telah memiliki jawabannya?’ Kali ini dia sudah mulai kehilangan kesabaran. ‘Cukup! Apa maksud dari ini semua? Kau mau mempermainkanku atau bagaimana?’ ia tahu, teriakannya itu mengundang perhatian dari pengunjung lain yang ada di kafe; tapi ia tak peduli. Ia sudah ingin berteriak dari semula, dan kini ia sudah tak mampu menahannya. Namun yang membuatnya agak terkejut adalah fakta bahwa lelaki di depannya ini masih terpaku saja dengan pandangan penuh arti dan senyum sinis mengejek. Ingin sekali ia menghajar lelaki ini untuk sekedar menghapuskan senyuman di wajahnya itu; namun masih ada sedikit kewarasan yang ia punya. Ia hanya bisa berdiri termenung, dengan lengan terkepal dan nafas memburu, dengan tatapan penuh kemarahan yang terpusat pada sosok di depannya ini. Semula ia tak mengharapkan apa-apa, namun ia terkejut ketika lelaki ini akhirnya mendengus, dan membuka suara, “apa kau siap untuk melakukan sesuatu – itu yang harus kau jawab terlebih dahulu” ia tak bisa merasakan dan berpikir apapun. Namun ia tahu, bahwa kembali duduk tenang dan mendengarkan adalah pilihan terbaik yang ia punya.
Malam semakin larut dan dingin. Suara debur ombak berbaur dengan suara beberapa pasang manusia yang masih bertahan di warung-warung pinggir pantai menjadi pemecah keheningan malam. Sebuah mobil sedan warna merah lantas berhenti melipir di area parkir yang sudah tersedia. Tampak sesosok pria melangkah gontai keluar dari mobil tersebut; alih-alih menuju warung yang masih buka, ia berjalan menuju tembok beton pembatas pantai yang setinggi pinggang orang dewasa tersebut. Tak diacuhkannya beberapa pasang pemuda yang masih tersisa yang duduk-duduk di sekitar tembok tersebut. Ia menatap nanar ke tengah laut yang gulita dan nampak tenang tersebut. Segala hal berkecamuk di pikirannya. ‘apa yang telah kulakukan?’ ‘mengapa aku malah kesini?’ ‘apa yang harus kuperbuat nanti?’ ia hanya bisa terus tenggelam dalam pikirannya sambil terus menerus menghela nafas panjang. Diliriknya beberapa pasang manusia yang masih tersisa di pinggiran tembok pantai tersebut. ‘pasangan yang penuh kepalsuan! Dimabuk eforia asmara sesaat saja!’ ‘apa yang akan mereka lakukan jika tahu orang yang di hadapannya akan mengkhianati mereka kelak?’ ‘apa yang akan mereka lakukan jika mereka melihat ada orang lain yang lebih menggairahkan dibandingkan sosok yang ada did depannya?’ ‘apa yang mereka lakukan jika nanti mereka harus terpisah?’ ‘apa yang mereka lakukan jika mengalami hal yang sama sepertiku?’ pertanyaan-pertanyaan tersebut terus membuncah di benaknya. Tak kuasa, ia merogoh saku celananya, mencari bungkus rokok dan korek yang biasa ia simpan disana. Ia membutuhkan nikotin sebagai penenang. Dan ketika api itu membakar rokok tersebut, dan ketika asap itu terkepul keluar dari mulutnya, ia merasa menemukan suatu kesenangan yang menenangkannya.
Anyelir, aku melihatmu mengangkasa bersama bahagia, menari beriring sedih, melaju dalam layu, terhampar dengan nestapa, terbujur dengan haru. Masihkah senyummu seindah senja? Masihkah pelukmu sehangat pagi? Masihkah tawamu sesejuk rintik hujan? Atau kini kau telah enggan tuk menyapaku laiknya hujan yang menolak membasahi bumi saat kemarau menjelang? Aku melihat keindahan embun yang menetes dari dedaunan pakis, dan aku teringat keindahan yang tersaji dari titik air matamu. Aku merasakan butiran pasir pantai yang lembut terkikis dari genggamanku; kelembutan yang sama kala kubasuh kulitmu dengan jemariku. Aku mendengar tawa bahagia kerumunan anak tetangga yang sedang bermain bola, mendendangkan syair bahagia yang sama tulusnya dengan tawamu. Anyelir, ketika seluruh duniaku selama ini adalah dirimu, bagaimana aku mampu hidup di dalamnya ketika kau tak ada lagi?
“Kruk..Kruk..Kruk” peti mati sudah diturunkan, pasir sedang diuruk. Kidung kematian masih disenandungkan perlahan. Pastur yang memimpin upacara pemakaman tampak letih; ia tak kuasa menahan haru dan sedih melihat bagaimana jemaatnya yang taat ini menemui kematiannya. Meskipun ia sudah berpengalaman cukup banyak memimpin pelbagai ritual pemakaman, namun ia tahu bahwa dirinya masihlah seorang anak gembala yang lemah dalam mengendalikan emosi. Ia melempar pandang ke sampingnya, ke arah lelaki yang berdiri tegar menghibur ibu si mayat yang sedari kemarin terus hanyut dalam tangis. Ia sangat kagum akan ketegaran hati lelaki ini yang ia kenal baik sebagai suami dari si jenazah; meskipun si suami ini bukan jemaat yang taat seperti si istri, ternyata Tuhan menganugerahinya dengan ketabahan yang luar biasa, begitu pikir si pastur. Laki-laki ini mampu menguasai dirinya untuk bisa membantu menenangkan adik iparnya yang masih SMP dan ibu mertuanya yang sudah paruh baya agar tidak larut dalam kesedihan. Bagi lelaki ini, keluarga istrinya adalah keluarganya juga. Ayah ibunya telah tiada dan dia adalah anak tunggal; berada bersama keluarga istrinya membuatnya serasa berada di keluarga kandungnya sendiri. Kehilangan istrinya sudah begitu berat, terlebih jika harus melihat mertua dan adik iparnya bersedih sedemikian hebat. Maka, meskipun dalam hatinya berkecamuk rasa benci dan amarah, ia merasa berkewajiban untuk menahannya terlebih dahulu. Ya, aku harus memastikan mama mertua, dan adik ipar agar tidak terlalu larut dalam kesedihan dulu, baru memikirkan hal yang lain, begitu pikir laki-laki. Menyaksikan gerak-gerik lelaki yang nampak begitu kuat dalam mengendalikan emosinya, pastur ini merasa diingatkan betapa lemahnya ia jika dibandingkan jemaatnya yang tak tergolong taat ini. Dan ia lalu tersadar atas tanggung jawabnya untuk memimpin upacara pemakaman tersebut. Maka, setelah ia membuat tanda salib dalam hati dan memohon ampun, ia kembali memusatkan perhatiannya dalam memimpin upacara pemakaman tersebut. Seluruh yang hadir disitu nampak larut mengikuti upacara dengan khidmat; kecuali satu orang yang berdiri agak menjauh dari kerumunan, yang terus memandangi si lelaki dengan pandangan penuh makna dan senyuman sinis.
Apa yang tersimpan dalam kehampaan? Apa yang tersajikan dari kesunyian? Apa yang tersisa dari kesia-siaan? Arus waktu ini, benarkah ia akan mengantarkan kita pada sebuah akhir yang sama? Ataukah kita tenggelam di dalamnya, tanpa pernah menyatu kembali? Kefanaan dunia ini, benarkah ia akan berujung pada sebuah bahagia yang hakiki? Ataukah kita kembali terjebak dalam absurditas yang tak berujung? Anyelir, aku mendengar tawamu di setiap hembus angin kemanapun aku pergi melangkah. Dan aku melihat senyummu dalam setiap senja yang kau kagumi, dan selalu kau ceritakan padaku dengan berbinar-binar. Aku bahagia, kau selalu mengiringiku dalam setiap langkahku. Aku bahagia, keindahanmu masih menjadi penyejuk bagi segala dukaku. Tapi, apakah artinya segala kebahagiaan itu jika ternyata hanya kepalsuan sesaat tanpa ada tawamu yang sesungguhnya; tanpa ada keindahanmu yang nyata. Aku adalah sebongkah pasir yang tak berarti, hanyut tak beraturan tanpa satupun memahami; yang kemudian kau tiupkan makna melalui kehadiranmu di sisiku. Lantas, ketika kau terlenyap untuk selamanya, apa yang bisa kuharapkan untuk kumaknai kembali dari segala ketakberaturanku ini? Anyelir, betapapun aku merindumu, betapapun aku mengharapmu kembali, semua hanya mengantarkanku pada kehampaan, kesunyian, dan kesia-siaan. Anyelir, biarkan aku menuliskan kisah tentangmu, tentang keindahanmu, dan sedikit tentang kita didalamnya, akan kujadikan ingatan tentangmu abadi; biarkan ia menjadi sebuah epitaf yang menandakan segala bahagia ini hanya maya yang bermuara pada nestapa tanpa makna.
‘Dia tak akan pernah menyadarinya. Dia tak akan pernah mengerti’ begitu pikir wanita ini ketika hendak menceritakan sesuatu pada lelaki yang sedang menyantap makan malam dengan lahap. Kegundahan hatinya bisa ditangkap oleh suaminya, yang lantas menghentikan makannya itu. ‘apa yang sedang kau pikirkan Anyelir? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?’ Anyelir terkesiap dari lamunannya. Ia sadar kegundahannya itu akan menyusahkan suaminya jika ia ceritakan semuanya. Ia tak mau merusak rumah tangganya yang bahagia ini dengan hal-hal kecil yang tak berguna. ‘bagaimana bisa aku menceritakan kepadanya tentang penguntit yang menggangguku ini? Aku tahu bahwa ia sangat mencintaiku dan mengkhawatirkanku, tapi aku lebih khawatir akan sumbu di kepalanya yang sangat pendek. Jika aku ceritakan tentang bagaimana pegawai di kafe favoritnya itu mulai menggangguku, tentu ia akan meledak dan membikin kacau suasana kafe itu. Aku tak mau segala keributan itu terjadi. Aku tak mau ia menderita karenaku. Sudahlah, toh sepertinya lelaki ini hanya penguntit bernyali kecil. Toh ia tak menggangguku separah yang aku khawatirkan. Mungkin jika aku diamkan saja, aku bentak dan ancam laporkan ke polisi, mungkin dia akan berhenti menggangguku. Ya, aku tak boleh merusak rumah tangga dan kebahagiaanku hanya karena masalah kecil seperti ini.’ Anyelir lantas tersenyum simpul. Direngkuh dan ia genggam dengan penuh kasih jemari suaminya itu. ‘Tidak ada kok Sayang. Hanya sedikit masalah pekerjaan. Tapi kamu tahu kan kalo aku masih bisa nyelesaiin itu semua sendiri. Dan kamu percaya sama aku kan, kalo memang aku sudah ngga bisa aku pasti cerita ke kamu sayang. Kamu percaya kan sama aku?’ sempat terbersit rasa khawatir di benak lelaki ini ketika melihat istrinya nampak gelisah akhir-akhir ini. Namun ia tahu tabiat istrinya yang memang cenderung tidak mau membahas masalah pekerjaan di depannya. Dan ia sudah hafal betul istrinya yang paling tidak suka jika tidak ia percaya. Maka ia hanya tersenyum kecil, mengecup dahi istrinya itu, dan ia membisik mesra ‘iya sayang. Aku tahu kok. Dan aku percaya sama kamu. Semoga sukses ya.’ Setelah melihat senyum bahagia istrinya, dan mendengar balasan mesra ‘terima kasih sayang. I love you.’, laki-laki ini lantas meneruskan makan malamnya lagi dengan lahap.
‘Penjelasanmu tak masuk akal’ ‘aku sudah menyampaikan yang sejujurnya padamu.’ Mereka berdua kembali terdiam lagi. ‘Foto itu adalah buktinya. Kau tentunya tidak lupa dengan wajah istrimu sendiri kan.’ Jangan bercanda! Aku bisa membunuhmu disini sekarang karena ucapanmu barusan!’ Dia merasa hampir kehilangan kesabaran. Siapa sebenarnya lelaki ini? Bagaimana bisa dia memiliki foto istrinya – lebih tepatnya bagaimana bisa ia memiliki foto istrinya yang sedang dicekik pria yang tak ia kenal ini! Dan pakaian itu adalah pakaian terakhir yang dikenakan Anyelir sebelum ia meninggal. Bagaimana bisa? Apa dia juga komplotan pembunuh istrinya – pemikiran ini sempat terbersit di benaknya, tapi dia masih bisa berpikir logis, jika demikian mengapa orang yang mencekik ini membiarkan kehadirannya? Lalu jika dia bukan komplotan pembunuh istrinya, mengapa ia bisa memiliki foto yang sedemikian jelas? Haruskah aku menyerahkannya ke pihak polisi sebagai barang bukti? Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus menghantui benaknya sejak laki-laki itu mengenalkan diri kepadanya di pemakaman tadi siang.
‘Anda Tuan Segara?’ laki-laki itu menyapanya di akhir upacara pemakaman. Sesosok pria, sekitar umur 30an, bertubuh kecil-bungkuk dan rambut klimis menyapanya. Segara mengamati sejenak penampilan lelaki ini. Meskipun tubuhnya kecil bungkuk, namun pakaian lelaki ini nampak rapi dan necis. Ia sebenarnya sudah malas menanggapi orang yang sekedar menyampaikan ucapan duka yang baginya hanya basa basi belaka; namun dia tak ingin melukai kenangan baik orang tentang istri yang dicintainya. Ia sendiri merasa asing dengan wajah lelaki ini. Apa ia rekan kerja istrinya dulu? Mengapa baru kali ini ia bertemu dengannya? ‘Saya kenalan mendiang istri Tuan.’ Hatinya sedikit lega mendengar jawaban ini. Namun untuk apa laki-laki ini menyapanya? ‘Saya turut berduka atas meninggalnya Nyonya Anyelir, Tuan.’ Kecurigaan terhadap laki-laki ini tidak terbukti ‘Terima kasih, Tuan.’ ‘Ada yang ingin saya bicarakan dengan Tuan Segara.’ ‘Apa maksud anda, Tuan? Saya sedang berduka. Lagipula saya tidak kenal anda.’ Ternyata kecurigannya tepat! Tapi apa yang diincar laki-laki ini? Laki-laki itu tiba-tiba merapatkan tubuhnya, merogoh saku dalam jasnya dan menunjukkan selembar foto, ‘Saya hendak membicarakan tentang ini, Tuan.’ Hati Segara berdegup kencang. Foto Anyelir sedang dicekik seorang pria lain yang tak ia kenal!
Segara langsung mendelik kepada laki-laki itu. Siapa laki-laki ini? Apa maksudnya ini? Segara ingin merebut foto itu dan melihatnya lebih lanjut, tapi laki-laki itu menepis pergeralngan tangannya. Ingin ia mencengkram kerah leher laki-laki ini dan menginterogasinya lebih lanjut. Namun melihat bahwa masih ada beberapa peziarah didekatnya, ia merasa harus mengendalikan diri. Ia mendesis ‘Saya tidak mengerti maksud tuan. Tolong jelaskan pada saya’ laki-laki di hadapannya malah tersenyum sinis. ‘temui saya sore ini di kafe langganan tuan. Saya hanya punya waktu 1 jam untuk menjelaskan semuanya. Saya tunggu disana.’ Ia hendak menahan laki-laki itu, namun laki-laki itu segera berlalu begitu saja. Maka disinilah ia, berdua dengan lelaki asing, yang ia curigai salah satu pembunuh istrinya.
‘kau mau membunuhku, Segara? Maaf, kau tak akan mampu melakukannya.’ Segara merasa sudah tidak mampu menahan emosinya lagi dipermainkan seorang pria asing di tengah kedukaannya. ‘Cukup! Aku tak kenal siapa engkau ini! Aku merasa ocehanmu sudah keterlaluan! Aku akan melaporkanmu ke polisi dan menyerahkan bukti foto ini!’ Tepat saat dia sudah siap beranjak dari tempat duduknya tersebut dan mengemasi barangnya, laki-laki itu mendengus sinis. ‘bagaimana jika aku bisa memberimu keadilan yang lebih jika dibandingkan dengan yang polisi berikan padamu?’
‘Tok. Tok. Tok’ suara ketukan di jendela mobilnya membangunkannya dari tidur. Satpam kantor yang ia kenal, sedang patroli. ‘Malam, Pak Segara. Lagi tidur ya Pak?’ ‘Malam Pak. Iya Pak, istirahat sejenak sebelum kena macet.’ Dilihatnya arlojinya. Sudah pukul 6 malam. Sudah hampir 1 jam ia tertidur disitu. Waktunya pulang ke rumah dan makan malam dengan Anyelir. sedikit kopi mungkin akan membantu menenangkan pikiranku. Segara membuka dashboard mobil, tempat dia biasa meletakkan kopi kalengnya. Namun, betapa terkejutnya ia ketika tidak mendapati kopi kaleng disitu, tetapi sebuah pistol, yang terbungkus bersama selembar foto dan kertas penuh coretan. Jantungnya berdegup kencang. Jadi itu bukan mimpi?
‘Malam Sayang!’ seperti yang ia harapkan, istrinya selalu menyambutnya dengan penuh kehangatan cinta kala ia pulang. ‘Aku sudah siapkan makan malam untuk kita. Selepas kau mandi, makan bersama ya.’ Segara hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa. Dia tak bisa bisa mengalihkan pikirannya dari isi dasbor mobilnya tadi. Hanya wajah istrinya yang sanggup membuatnya melupakan kegelisahan itu. Teringat segala kenangan bahagia yang ia lalui bersama istrinya selama ini. Apakah memang benar ia harus kehilangan semua itu? Pikirannya terus terhantui kala ia mandi dan ketika kini mengecap makanan. Ia mencoba memfokuskan diri pada kelezatan masakan yang ia kecap itu, namun tak satupun dapat ia rasa. Dilihatnya istrinya nampak penuh pertanyaan juga; apa ia menyadari apa yang pikirkan? ‘apa yang sedang kau pikirkan Anyelir? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?’ ia mampu melihat bilur keterkesiapan dari kilat mata istrinya membuatnya bertanya-tanya benarkah istrinya menyadarinya? Anyelir hanya tersenyum simpul. Direngkuh dan digenggam dengan penuh kasih jemarinya itu. ‘Tidak ada kok Sayang. Hanya sedikit masalah pekerjaan. Tapi kamu tahu kan kalo aku masih bisa nyelesaiin itu semua sendiri. Dan kamu percaya sama aku kan, kalo memang aku sudah ngga bisa aku pasti cerita ke kamu sayang. Kamu percaya kan sama aku?’ Segara gelisah karena ia tahu istrinya berbohong. Apakah benar semua yang ia rasakan dalam mimpinya tadi bahwa sebelum istrinya meninggal ia merasakan sebuah ketakutan yang dalam? Dia tahu tabiat istrinya, dan dia bisa merasakan sebuah kebenaran dari premisnya tersebut. Maka ia hanya tersenyum kecil, mengecup dahi istrinya itu, dan ia membisik mesra ‘iya sayang. Aku tahu kok. Dan aku percaya sama kamu. Semoga sukses ya.’ Setelah melihat senyum bahagia istrinya, dan mendengar balasan mesra ‘terima kasih sayang. I love you.’, laki-laki ini lantas meneruskan makan malamnya lagi dengan lahap. Ia ingin dengan segera menuntaskan makan malam tersebut, dan mengakhiri gelisah di hatinya. Bayangan dirinya memacu mobil ke alamat yang tertulis dibalik foto tersebut, mengokang pistol, perlahan menaiki anak tangga kemudian mengetuk pintu dan memuntahkan pelor panas pada laki-laki yang membukakan pintu tersebut terpatri dengan jelas di benaknya. Akan kulakukan apa yang harus kulakukan, tekadnya. Setelah makan malam selesai dan membereskan piring-piring kotor, diambilnya kunci mobil di kamarnya. ‘Aku keluar sebentar, tadi seorang kawan menghubungiku. Katanya ada hal penting yang mendadak harus dibereskan. Kau kunci pintu saja, aku bawa kunci cadangan.’ Istrinya terkejut dan terheran. Tak biasanya suaminya pergi keluar mendadak malam-malam, dan hampir tidak pernah ia pergi begitu saja tanpa mengecup keningnya. Ia menjadi khawatir, ‘apakah suamiku menyadari tentang kekhawatiranku selama ini’. Ketika ia bergegas membuka pintu rumah, dilihatnya mobil sudah dipacu menjauh oleh suaminya. Sambil memandang kejauhan dalam gelap, jantungnya tak bisa berhenti berdegup kencang.
‘Segara, dengarkan aku baik-baik untuk terakhir kalinya. Aku rasa aku sudah tidak punya waktu lagi untuk menjelaskan semuanya kembali padamu. Aku adalah Izrail, sang penguasa nyawa. Dan aku telah menyampaikan kepadamu kebenaran yang sebenarnya lewat bukti-bukti yang kuberikan padamu. Catatan kertas itu, yang mencatat tentang detil kematian orang yang kau kenal, tentang umur berapa mereka mati, kapan mereka mati, dan bagaimana mereka mati, seharusnya kau menyadari bahwa aku tidak berdusta kepadamu. Dan foto itu, foto yang memperlihatkan detik-detik kematian istrimu, seharusnya bisa menjadi bukti kuat untuk meyakinkanmu. Ketahuilah, bahwa lelaki dalam foto inilah pelaku sebenarnya – orang yang telah membunuh istrimu dan calon anakmu, serta memperkosa mayat istrimu. Hasil pemeriksaan forensik akan segera keluar dan pemeriksaan sperma akan menunjukkan bukti bahwa dia memang cocok sebagai pelakunya. Tapi semua sudah terlambat, karena lelaki itu telah membunuh dirinya semalam di kamarnya. Dengarkan aku, Segara. Ketika sesosok manusia itu lahir, dia mempunyai kehidupan yang berjalan paralel di 9 dunia. Takdirmu bersinggungan dengan Anyelir di 4 dunia; namun tidak satupun di antara 4 dunia itu kau akan hidup berdampingan selamanya dengan Anyelir. Dari 4 dunia itu, ada dua dunia dimana takdir kau dan Anyelir, bersinggungan dengan laki-laki yang ada di foto itu. Dan di kedua dunia tersebut laki-laki itulah yang akan menghabisi nyawa istrimu. Namun di duniamu hidup sekarang, laki-laki itu telah mati bunuh diri; kau tak akan bisa menuntut balas. Maka, jika kau ingin menghabisi nyawa laki-laki itu, kau memiliki kesempatan di 1 dunia lain. Waktu yang berjalan di dunia paralel tersebut berjarak 2 hari dengan waktu di dunia ini. Ketika kau bangun tersadar di dunia tersebut, maka kau berada di malam sebelum kematian istrimu. Kau memiliki kesempatan untuk membalas dendam di dunia ini, dan mencegahnya membunuh istrimu di dunia paralel tersebut. Untuk memudahkanmu menjalankan misi balas dendammu, segala ingatanmu yang ada di dunia ini yang berkaitan dengan kematian istrimu akan kutransfer di ingatanmu di dunia paralel tersebut. Dan ingat, kau hanya punya waktu 20 jam di dunia paralel tersebut sebelum nyawa istrimu melayang kembali.’ Semua kata-kata ini meluncur begitu cepat dari mulut lelaki ini.
Mendengar hal tersebut, amarah Segara langsung memuncak dan ia membentak. ‘Dengarkan ini Kawan. Aku sudah dengar penjelasanmu ini tadi. Semua tak terasa masuk akal bagiku. Aku rasa sudah cukup main-mainnya. Aku semula menghargaimu karena aku mengira kau rekan istriku; tapi mendengar omong kosongmu aku jadi sangat marah. Foto ini akan aku sita, dan akan aku serahkan ke polisi. Aku akan menyerahkanmu kepada mereka. Sejujurnya aku mencurigaimu sebagai anggota komplotan, dan ingin sekali membunuhmu disini sekarang. Namun, demi nama baik istriku, tak akan kulakukan itu semua, dan akan kuserahkan semuanya ke polisi yang berwenang. Aku harap kau tidak perlu mengajukan izin sakit jiwa jika kelak polisi menangkapmu.’ Dia langsung beranjak pergi meninggalkan tamunya tanpa membayar maupun berkata apa-apa lagi. Laki-laki ini hanya tersenyum sinis memandangi sosok Segara melalui jendela yang ada di sampingnya. Nampak sosok Segara berjalan tergesa menyisiri trotoar tersebut menjauh dari kafe tersebut menuju ke perempatan jalan. Laki-laki ini dengan santai memanggil petugas kafe dan meminta bon tagihan. Setelah melihat bon tagihan tersebut, dilihatnya arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya, ‘silakan saja sesukamu Segara, jika kau merasa masih punya cukup waktu.’
Pemuda itu mengetuk pintu perlahan hingga kemudian perawat itu membukanya dan menyambut dengan senyuman ramah. ‘Silakan masuk, Tuan.’ Pemuda itu melangkah perlahan menyesuaikan dengan langkah wanita renta yang ia gamit lengannya, sementara perawat bergegas menyiapkan kursi bagi dua orang tamu ini untuk duduk. ‘Saya baru saja selesai mengganti infusnya Tuan. Mohon Tuan duduk sebentar disini, akan saya panggilkan dokter.’ Perawat itu bergegas pergi setelah si pemuda berterimakasih padanya. ‘Aku tak habis pikir. Dia menantu yang baik; kau sendiri juga sadar dengan hal itu kan. Betapa dia mencintai kakakmu. Mungkin saja dia merasa bersalah dalam kecelakaan mobil itu. Mungkin dia merasa bersalah karena harus kehilangan kakakmu dan calon bayinya disana, hingga dia terus terbenam dalam koma-nya ini. Aku benar-benar kasihan padanya, karena dia tak sepantasnya menyiksa dirinya sedemikian. Aku sama sekali tak marah padanya; aku malah ingin dia segera tersadar dan bisa meneruskan hidupnya dengan bahagia demi kakakmu juga.’ Wanita renta ini bergumam lirih dan terbata menahan tangis. Pemuda ini memeluk pundak ibunya. ‘Aku juga, ma. Aku mencintai baik Kak Anyelir dan Kak Segara sama besarnya. Mama tentu tahu betapa sedihnya aku ketika kabar kecelakaan itu tiba enam tahun yang lalu. Sama seperti mama, setiap kali aku kesini aku terus teringat dan dihantui soal itu. Aku juga berharap semoga Kak Segara bisa lekas sadar. Aku terus menemani mama merawatnya juga karena aku teringat betapa besarnya cinta Kak Anyelir pada Kak Segara. Namun, mama juga jangan terus terpuruk sedih begini; mama juga tahu kan betapa cintanya Kak Anyelir pada mama. Apa yang dirasa Kak Anyelir jika mama terus terpuruk selama enam tahun? Kini kita hanya bisa mendoakan dan terus merawat Kak Segara dengan penuh kasih sebagai satu-satunya keluarga yang tersisa. Namun kita harus ikhlas ma, jangan malah menyiksa hati kita.’ Wanita itu hanya terdiam terisak. Tak lama kemudian pintu diketuk, dan masuklah seorang dokter bertubuh kecil. ‘apa kabar, dok? Ada kabar baik apa tentang kakak ipar kami hingga memanggil kami kemari?’ sapa si pemuda sambil menjabat tangan dokter yang telah dikenalnya baik sejak enam tahun yang lalu. Dokter itu terdiam sesaat, sebelum berkata, “Maaf sekali Pak, Bu. Saya memanggil Bapak dan Ibu bukan untuk kabar baik. Sebaliknya, untuk sebuah kabar buruk. Pagi tadi, tanda kehidupan Tuan Segara melemah. Sejujurnya, meskipun beliau nampak tertidur tenang, saat ini kondisinya memasuki tahap kritis. Sepertinya Tuan Segara sudah siap untuk mengakhiri sendiri penderitaannya selama ini.’ Wanita renta itu menjerit dan menangis keras tanpa sanggup ia tahan, sementara pemuda itu hanya termenung kaku. Bukan soal kabar kakak iparnya yang akan meninggal yang mengejutkannya; ia sudah menyiapkan diri sejak lama. Tapi sesuatu yang tadi berkelebat di matanya, ‘Apa dokter ini tadi benar-benar tersenyum sinis ketika menceritakan kabar Kak Segara ini?’
Dalam hening malam, ia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. ‘Mengapa kulakukan itu?’bayangan lelaki yang perlahan kehilangan nyawa di tangannya terus berkelebatan di benaknya. Bayangan istrinya yang tampak sedih dan kecewa karena harus menyambutnya pulang sebagai pembunuh juga tak kuasa ia tepiskan. Ia tertawa, lalu berteriak, lalu menangis. ‘Sialan! Aku dipermainkan Izrail!’ Pistol, kertas coretan, dan lembaran foto sudah ia buang di pantai tadi ketika ia merokok sejenak setelah membunuh. Semula ia merasakan rasa damai dan tenang. Namun kini rasa damai dan tenang itu telah pergi; dan kekhawatiran, kesedihan, kemarahan, serta ketakutan terus berkecamuk di pikirannya. Kini ia coba mengusirnya dengan terus menginjak pedal gasnya dalam-dalam. ‘Apa yang harus kulakukan? Apa yang akan kukatakan pada Anyelir? Bagaimana aku melanjutkan hidupku? Sialan! Bagaimana ini bisa terjadi! Ah!’ ia gelisah dan menginjak pedal gas semakin dalam. Ketika ia mencoba menyalip kendaraan di depannya, dari arah berlawanan muncul truk pengangkut muatan yang juga melaju dengan kencang. Maka ia hanya bisa terbelalak terkejut tanpa bisa bereaksi apa-apa ketika mobilnya menghantam truk tersebut dengan dahsyat.
‘Apa yang terjadi?’ ‘Ada orang yang meninggal! Tewas seketika tertabrak truk!’ ‘Cepat telepon polisi dan ambulans?’ ‘mana sopir truknya ini?’ ‘bukankah dia orang yang baru saja keluar dari kafe itu?’ ‘Iya aku melihatnya keluar dari kafe tersebut tadi’ ‘Coba panggilkan petugas kafe, siapa tahu ada yang mengenalinya!’ Perempatan jalan yang biasanya ramai kendaraan yang melaju itu menjadi sedikit terhambat ketika terjadi ribut-ribut masyarakat karena adanya kecelakaan. Seorang pria tergopoh-gopoh masuk ke dalam kafe, dan berteriak. ‘Ada seorang lelaki berkemeja hitam, baru saja tewas tertabrak truk di perempatan jalan. Ada yang melihatnya baru saja keluar dari kafe ini. Apa ada yang melihatnya?’ sejenak pengunjung dalam kafe tersebut terdiam, dan kemudian saling bergumam. Apakah pengunjung yang tadi berteriak-teriak di pojokan itu? ‘Aku melihatnya. Tadi dia ada di pojokan sana bersama dengan seorang temannya.’ Sahut seorang pelayan wanita yang semula melayani mereka. Semua langsung seketika menoleh ke arah yang sama. Tidak nampak satupun orang disana, kecuali gelas yang belum diberesi dan secarik bon tagihan yang tertutupi oleh dua lembar seratus ribuan. Pelayan wanita itu menjadi bingung. ‘Bukankah beberapa saat yang lalu masih ada temannya disana?’
“Kruk..Kruk..Kruk” peti mati sudah diturunkan, pasir sedang diuruk. Kidung kematian masih disenandungkan perlahan. Pastur yang memimpin upacara pemakaman tampak letih; ia tak kuasa menahan haru dan sedih melihat bagaimana jemaatnya yang taat ini tampak begitu larut dalam kesedihan dan tak mampu mengendalikan emosinya. Ia tahu bahwa jemaat ini menikah dengan lelaki yang tak setaat dirinya. Namun ia tak habis pikir bahwa jiwa lelaki tersebut rupanya sudah setersesat itu. Bagaimana mungkin seorang lelaki bisa dengan tega bunuh diri meninggalkan istrinya yang sedang hamil muda? Ia merasa kasihan pada jemaatnya; sepantasnya ia mampu mendapatkan sosok laki-laki yang bisa mengasihinya dengan lebih baik. Menyaksikan gerak-gerik jemaatnya yang tampak begitu sedih dan kehilangan tersebut ia jadi bertanya-tanya; mengapa orang yang setaat jemaatnya ini bisa begitu kehilangan kendali emosi hanya gara-gara sosok jemaat yang tak taat? Sesaat ia ingin memarahi lemahnya iman jemaatnya; namun seketika ia tersadar bahwa ia sedang dalam tanggung jawab untuk memimpin upacara pemakaman tersebut. Maka, setelah ia membuat tanda salib dalam hati dan memohon ampun, ia kembali memusatkan perhatiannya dalam memimpin upacara pemakaman tersebut. Seluruh yang hadir disitu nampak larut mengikuti upacara dengan khidmat; kecuali satu orang yang berdiri agak menjauh dari kerumunan, yang terus memandangi si wanita dengan pandangan penuh makna dan senyuman sinis. Ketika upacara pemakaman berakhir, laki-laki ini mendekati Anyelir, dan menyapanya, ‘Nyonya Anyelir, saya turut bersedih atas kepergian Tuan Segara. Saya kenalan Tuan Segara.’
‘Selamat siang Dok.’ Dokter itu hanya tersenyum kepada para perawat yang menyapanya sambil berjalan tenang ke arah kantornya. Ia menghentikan langkah sejenak, lantas memanggil seorang perawat yang sedang berjalan sambil membawa beberapa lembar kertas di papan jalan yang ia peluk di dekatnya. ‘Suster, pasien no 18 bagaimana kabarnya?’ Suster itu berhenti sejenak, melihat pada lembaran kertas tersebut, kemudian tersenyum. ‘pasien favorit dokter ya? Masih sama seperti biasa, Dok. Dokter mau lihat?’ ‘Boleh, Sus.’ Dokter itu lantas urung memasuki kantornya dan mengikuti suster itu melangkah. Ketika sampai pada sebuah bangsal dengan pintu terbuka, suster itu mempersilakan dokter masuk duluan. ‘Sama dengan sebelumnya ‘kan Dok. Di pojokan sana.’ Di pojokan dekat dengan jendela, seorang pria hanya duduk terdiam memandang nanar ke arah luar. Di pangkuannya nampak sebuah buku catatan dan sebuah pulpen. Dokter itu menghampiri pasien tersebut sambil ditemani perawat yang berjalan di sampingnya. ‘Masih menjadi penyair ya, Segara. Sudah berapa sajak yang kau tulis untuk Anyelir?’ sapaan itu tidak dipedulikan pria berwajah muram yang duduk di pojokan tersebut. ‘kasihan ya Dok. Sudah ditinggal istrinya yang meninggal saat bersalin, bayinya tidak selamat, sekarang ia malah jadi gila. Sudah begitu keluarga istrinya kini tidak ada lagi yang mau mengakuinya. Malang sekali ya.’ Dokter itu tak menanggapi ocehan perawat itu. Ia mengambil buku catatan yang ada di pangkuan pasien itu dan membuka lembaran-lembaran di dalamnya. Pasien itu sendiri tidak mempedulikan si dokter, hanya terus memandang keluar. Epitaf Fantasi ya judul tulisanmu kali ini, Segara? Menarik sekali.’ Dokter ini meletakkan kembali perlahan buku tersebut di pangkuan pria murung tersebut, dan mengajak suster tersebut melangkah keluar. ‘Kalau suster tidak tahu cerita keseluruhan tentang pria tersebut jangan komentar sembarangan.’ Ucap dokter itu pelan sambil tersenyum sinis. Perawat itu hanya bisa menunduk malu, merasa bersalah dan meminta maaf. Perlahan, pria muram di pojokan tersebut mulai bersenandung lirih, ‘aku ingin berdua denganmu, tapi aku hanya melihat keresahanmu..’[iii]
Lihatlah dirimu yang masih tertegun dengan kisah yang baru disampaikan tukang cerita kepadamu. ‘kejam sekali ceritamu. Apa sudah selesai?’ kau bertanya pada si tukang cerita. ‘bagaimana menurutmu?’ jawab si tukang cerita sambi tersenyum sinis.
[i] Dikutip dari Lagu Nothing to Fear. Whiteshoes and The Couples Company. Album: Self Titled
[ii] Dikutip dari Lagu In 1997 The Bullet Was Shy. Sore. Album: Ports of Lima
[iii] Dikutip dari Lagu Resah. Payung Teduh. Album: Self Titled
Tidak ada komentar:
Posting Komentar