Jumat, 02 Juli 2021

Romansa Elegi

 Ia selalu teringat akan Air. tentang tarian kepedihan Air yang menyadarkannya akan arti keindahan. tentang nyanyi sedih Air yang juga mengingatkannya kepada suatu keindahan. juga tentang goresan luka Air yang kembali mengajarkan makna-makna keindahan. semua, semua tentang Air adalah tentang keindahan. Air menyapa duka, duka itu menjadi indah, dan indah itu Air, Air memeluk luka, luka itu menjadi indah, indah itu Air, Air mengayun bersama gelisah, Air berjingkat di antara derita, Air bermain-main dengan lara, dan Air bercengkrama dengan nestapa, lantas semua gelisah, derita, lara dan nestapa menjadi indah, dan indah itu selalu Air. Air menggenggam pasir, lalu pasir menjadi pasir Air, Air mengecap apel, lalu apel menjadi apel Air, Air membasuh dedaunan yang meranggas, dan dedaunan menjadi dedaunan Air. pasir, apel, dan dedaunan menjadi indah, karena semua tentang Air adalah semua tentang keindahan. 'Ah Air bagaimana aku bisa melupakanmu?'

 

laki-laki itu terdiam dalam gelap. tak ada lagi yang bisa ia rasakan selain sebuah ketiadaan. semua menjadi begitu sunyi, begitu dingin, begitu pekat. tak lagi darah ia rasa mengalir di tubuhnya, meski jantungnya masih memompa, dan meski semakin kencang. dia tahu, bahwa yang menarik kencang udara dan nafas yang tersengal itu adalah milik paru-parunya, dia mendengarnya, tapi dia tidak mampu merasakannya lagi. semua ingatan yang pernah ia rekam, terputar kembali di hadapannya begitu saja dan terpampang seperti layar tancap, walaupun ia tahu bahwa ia tidak mau dan tidak mampu untuk mengingat semua itu lagi. semua menjadi semakin sunyi, semakin dingin, dan semakin pekat. ternyata dia masih bisa merasakan dingin itu, meski dia tidak mau. ya, dingin yang semakin menusuk, dingin yang tak pernah ia rasa sebelumnya. ia ingin menggigil, ingin menangis, ingin berteriak, tapi dia hanya bisa terdiam. dia tahu, bahwa dia sudah tidak mampu lagi. telah datang apa yang selama ini ia benci dan ia singkirkan jauh-jauh dari hadapannya: bukan, bukan kematian, tapi rasa takut. ia sekarang takut, bukan takut pada kematian, tapi takut untuk takut pada kematian. rasa takut akan ketakutan, jauh lebih menakutkan daripada ketakutan itu sendiri. sepanjang hidupnya ia telah habiskan banyak waktu untuk mengalahkan dan membuang jauh-jauh rasa takut itu, dan itulah kebanggaan terbesar dalam hidupnya. tapi sekarang, telah datang rasa takut itu, hingga menghantuinya, memenuhi ingatannya, dan menguasai tubuhnya, menjadi hal terakhir dan satu-satunya hal yang ia ingat dan ia rasa di saat penghujung hidupnya, 'jadi hidupku ini memang hanyalah suatu kesia-siaan saja?' kali ini ia sanggup menangis. dan kembali, sayup-sayup terdengar dari jauh alunan musik tetangga, 'aku jatuh dan tak bangun lagi, tenggelam di rayuannyaaa...'

 

'apakah kau tahu tentang arti sebuah pengorbanan?' lalu Air melukiskan gurat derita itu pada sebuah batu, Air menyelusup masuk bersama debu menembus pori-pori tubuh, mengayun lembut menuju jantung, menggoreskan namanya pada sekat jantungnya, kemudian menari sedih lagi di hati, hingga meracau pilu bersama paru-paru, di setiap detik perjalanannya Air berkawan dengan zat asam, bertanya-tanya mengapa zat asam mau menghamba pada manusia, kemudian Air bermain-main dengan kelamin,dan tak lupa ia mampir menyapa sperma, dan kemudian membicarakan alasan mengapa sperma bisa menjadi sari pembawa kehidupan, lantas Air kembali menjamah setiap jengkal badan, meninggalkan semuanya menjadi milik Air, hingga ia memahatkan memori tentangnya di dalam isi tengkorak dan tanpa sadar telah terhapus segala kenangan lain, lalu Air berjalan keluar menyelinap di antara retina dan kornea, mengecup kening dan membisikkan kata yang akan selalu terngiang di benaknya, 'apakah kau akan selalu mencintaiku?'

 

laki-laki itu duduk termenung di sudut kamarnya. dalam diam, dirasakannya nafasnya semakin memburu. tak ia pedulikan asap rokok yang sedari tadi mengepul tanpa pernah dihisap semenjak ia bakar, yang terus memanggil-manggil namanya dan tak lelah untuk memeluknya dalam kamar yang pengap dan sempit itu. namun laki-laki itu acuh. pikirannya telah terpusat pada rentetan kejadian tadi sore. pada apa yang ia alami selama perjalanan pulangnya. 'apakah itu semua nyata?' 'apakah itu semua memang suatu kebenaran?' 'apakah selama ini merupakan kebohongan belaka?' 'apakah itu kebodohan?' 'apakah yang harus kuperbuat?' 'dan apakah yang harus kupercaya?' 'apakah jangan-jangan aku ini memang tidak nyata?'

 

kau mengejawantah menjadi tafsir alam atas setiap ayat tuhan yang turun dalam rinai hujan yang membasahi tanah, meniupkan kehidupan pada benih-benih tetanduran, menjadikan segala kekosongan dan ketiadaan adalah sebuah keberadaan baru di muka bumi, lalu menjelma menjadi atom yang menyusun molekul unsur-unsur di semesta raya, menjadikan engkau segalanya dalam setiap hal, mengalir deras dalam pusaran waktu dan menelusup masuk keabadian dunia fana, memelukku dalam peluhmu dan bawa aku mengangkasa, bersama kidung senja yang dinyanyikan dalam selubung awan dan lantunan tasbih yang mengalun dibalik tabir malam, membebaskan aku menari bersama rasi orion yang kau rangkaikan untukku sementara kau bercakap dengan kumpulan komet yang melintas dari galaksi lain, tentang ketidakadilan semesta karena menganugerahi bumi lapisan atmosfer yang kaya akan kehidupan. kau hamburkan untukku segala kebahagiaan itu meski aku sebutir debu yang terlupakan. apa lagi yang bisa kuharapkan darimu.

 

pisau dapur itu telah berada dalam genggamannya. apa yang selama ini ia rasa hanya kekosongan belaka. apa yang selama ini ia percaya hanya kebohongan semata. dihisap untuk pertama dan terakhir kalinya rokok yang sedari tadi mengganggu itu. 'kasian,' pikirnya sambil memandangi puntung rokok yang jadi sahabat hidupnya, 'kau diciptakan dari ketiadaan, menjadi sebuah keberadaan, hanya demi berakhir dalam sebuah ketiadaan lagi. lalu apa arti hidupmu? apakah hidupmu sudah terpuaskan jika kau bisa terhisap oleh manusia?' 'tidak.akulah yang lebih kasian. karena ternyata arti hidupku, seorang manusia, tak ada bedanya dengan arti sebatang rokok. itupun jika memang aku ini hidup.' dialihkan pandangannya pada sebilah pisau yang ia genggam itu. dia hanya tersenyum ketika pisau itu mulai mengelus-elus pergelangan tangannya. 'akhirnya aku akan tahu apa yang dirasakan oleh apel ketika ia terkupas kulitnya.' dalam satu tarikan nafas, benda berkilat itu lantas berayun dan mengiris urat nadinya. ketika ia lihat darah mulai mengalir, dan semakin deras, pikirannya kosong. ia hanya terdiam. 'jadi ini rasanya. kok dingin sekali ya?' dan sayup-sayup terdengar dari kejauhan, alunan musik tetangga, 'Cahya surya menyinari, menyiramii sanubariii..'

 

malam semakin pekat, dan jalan semakin sepi, namun laki-laki itu tetap meneruskan langkahnya, berusaha mengacuhkan sosok asing yang tiba-tiba menyeruak di hadapannya dan memanggil namanya setelah ia tak jauh keluar dari terminal,sosok yang tak ia kenal wajahnya dan tetap diam saja hanya memanggil-manggil namanya, kendati tadi sempat ia ajak bicara dan ia balas panggilannya itu. sosok itu terus saja memepet dan mengiringi setiap langkahnya, membuatnya semakin terganggu juga. ditengoknya kiri-kanan, akhirnya ia menghentikan langkahnya tak jauh dari ujung simpang jalan, setelah ia rasa daerah sekitar sepi, kecuali dua orang gelandangan yang berada di emperan toko di ujung seberang jalan. setelah sekali lagi memastikan jalanan sepi tak ada pengendara maupun pejalan, dia berbalik menatap tajam ke arah sosok asing ini, bersiap dengan segala kemungkinan termasuk jika harus berhadapan dengan garong. 'siapa kau?' 'aku adalah izrail' 'haha! gila kau!' 'tidak. aku tidak gila. aku izrail.' dia meneruskan langkahnya. ternyata hanya orang gila. 'menyingkir kau! jangan ganggu aku!' 'jika kau menganggap aku merupakan suatu kebohongan, maka kau salah' 'tidak! pergi kau! aku tidak percaya padamu! enyahlah kau segera!' 'ketahuilah bahwa..' 'kau bau! menyingkirlah jauh-jauh..' 'dari semua manusia, kau adalah golongan terlaknat..' 'aku tidak percaya padamu! jika kau memang kematian, maka akan kuteriakkan padamu, kau adalah dusta terbesar, sama palsunya dengan..' 'Tuhan, kau akan membusuk selamanya di neraka. tak akan peroleh..' 'surga yang abadi. dosa-pahala omong kosong!semua semu! sama halnya dengan..' 'ampunan-Nya. abadilah kau dalam penderitaan dunia dan..' 'akhirat, semua itu sama seperti candu! melenakan. buta akan..' 'kematian, yang telah datang padamu. dan tiada guna penyesalan, siksa yang kekal telah menghampar di kubur dan akhiratmu.yakinlah, karena aku benar adlaah kematian itu sendiri' laki-laki itu menghentikan langkahnya. dia berusaha menenangkan diri, sadar bahwa terpancing kelakar murahan ini. akhirat? tuhan? siksaan? kematian? malaikat maut? apakah ini orang gila yang kerasukan ajaran agama? mengapa tadi aku bisa terpancing dan percaya omongannya?dia perhatikan sosok yang kini berdiri di hadapannya.terbayang olehnya dongeng masa kanak-kanak tentang malaikat maut yang datang menjemput. dan terbahak-bahaklah ia mengingat itu semua.

 

'Dengarkan apa kataku!' 'Apa lagi yang harus kudengar darimu? Semuanya sudah cukup! Semuanya sudah jelas!' 'Belum! Kau belum mendengar..' 'Persoalannya sudah jelas! Semenjak dulu hingga sekarang. Kaulah yang tak mau mengerti! Kaulah yang tak pernah mau berpikir, melihat, dan mendengarkannya! Bukan aku, tapi engkaulah yang jadi biang permasalahan selama ini!' 'Kau tidak mengerti, kau belum tahu bahwa...' 'Sudah cukup aku sudah muak lagi melihatmu! Aku capek mendengarkan ocehanmu! Enyah!' sesaat antara laki-laki itu dan wanita yang berdiri di hadapannya, keduanya terbenam dalam diam. namun, sejurus kemudian wanita itu mendengus kasar, dan bergegas berbalik meninggalkannya tanpa sepatah katapun terucap, dan melangkah di balik pintu yang terbanting keras di hadapannya. laki-laki itu hanya memandangi wanita itu dengan tatapan nanar menembus jendela, namun wanita itu tak sedikitpun membalas tatapannya, sebaliknya hanya menggumam kasar dan tidak jelas, sembari berusaha menutup gorden. lama gorden itu tertutup, namun akhirnya ia tersibak lagi ketika wanita itu mengintip keluar dari celah yang ada. akhirnya wanita itu membalas tatapan si lelaki, namun hanya pandangan jijik dan menusuk yang dia terima sebelum si wanita melangkah kembali ke dalam rumah untuk meninggalkan laki-laki itu terbenam dalam kesendiriannya. 'kau belum tahu sepenuhnya dan belum mengerti semuanya. kau tidak tahu betapa aku mencintaimu. kau tidak sadar akan itu, Air.' Sayup-sayup terdengar nyanyian melantun dari radio di dalam rumah, 'kancingku mulai beku, kakiku merambat layuuu..'

 

laki-laki itu memandang sinis dan meremehkan, namun tetap masih menyimpan banyak pertanyaan di benaknya.'apa maumu?' 'aku hendak mengingatkanmu.' 'akan kematianku?' 'ya. tiga hari dari sekarang. kecelakaan lalulintas, terlindas truk.' 'apakah aku bisa merubah kematianku jika pada hari itu aku sama sekali tidak beranjak dari tempat tidurku?' 'sebuah kemustahilan dan keyakinan bodoh. kau bisa merubah hidupmu, memilih jalanmu, tapi kau tidak bisa merubah kematianmu maupun memilih bagaimana kau akan mati.' laki-laki itu tersenyum sinis, meski dahinya berkerut juga. apa maksudnya? apa yang dia inginkan? mengapa orang gila ini begitu terpukau tentang ajaran kematian dan menguliahinya tentang konsep dunia-akhirat? dan mengapa ia malah semakin percaya pada omong kosong ini? berulang kali ia berusaha memikirkan semuanya dengan lamat-lamat, dan mencerna apa yang dikatakan sosok asing ini. ia tak peroleh jawaban. dia ingin segera menyingkir, namun tampaknya sedikit menikmati gurauan bocah ini seru juga, lagipula dia masih belum menemukan sebuah jawaban yang tepat dari peristiwa dadakan ini. berusaha santai, ia bersandar pada tiang lampu jalan, dan mengambil sebatang rokok kretek dari dalam saku kemejanya. 'mau rokok?' dia sodorkan bungkus rokok yang isinya tinggal separuh itu pada sosok asing ini. 'apa maksudmu? apa kau masih tidak mempercayaiku bahwa aku malaikat maut?' 'apakah salah jika malaikat maut merokok? bahkan malaikat pun ada yang berzina dan berbuat dosa.' dia hanya bersandar terdiam, dan berulangkali menghisap rokoknya dalam-dalam.

 

'bagaimana kau akan mengingatku?' 'aku akan selalu mengingatmu seperti embun merindukan datangnya fajar, hingga ia tak pernah ada kecuali datang pagi untuk mengecupnya.' 'bagaimana kau mencintaku?' 'aku akan mengasihimu seperti kasih bumi pada langit, yang selalu menantikan pelukan langit, meskipun sadar pelukan langit adalah tanda kehancuran hidupnya.' 'bagaimana kau akan menjadikanku?' 'aku akan menjadikanmu sebagai senyawa bahagia yang mengalir dalam darahku, hingga ketiadaan dirimu menjadikan hidupku terlarut dalam kedukaan - seperti sekarang.'  'mengapa kau bisa mencintaku sedemikian rupa?' 'karena kau adalah Air.'

 

sekali lagi, dia hisap rokok itu dalam-dalam, dan dia hembuskan perlahan. 'lalu, mengapa kau menghampiriku seperti ini? apa kau selalu melakukannya ke manusia-manusia lain?' 'tidak. aku memang menghampiri manusia-manusia lain beberapa hari sebelum mereka menemui ajalnya. namun aku jarang sekali menampakkan diri sedini ini.' 'lantas mengapa kau muncul di hadapanku? apakah aku ini adalah seorang nabi, hingga peroleh keistimewaan berjalan-jalan dengan malaikat maut?' 'apakah kau memang selalu bertindak bodoh seperti itu?' 'apakah kau selalu bertindak bodoh dengan menanyakan hal-hal yang nyata sekali kebodohannya?' 'jadi apa tujuanmu datang di hadapanku? dan apa tujuanmu tiba-tiba datang menguliahiku tentang dosa, kematian, siksa akhirat, dan tentang tuhan?' 'kau tahu, aku selalu bertanya-tanya mengapa pendosa seperti kalian selalu besar mulut dan mendustakan Tuhan sepanjang hidupnya, namun ketika kematian itu datang, atau bahkan ketika kalian menanggung azab kalian itu di akhirat, kalian semua berteriak-teriak, menangis menghiba memohon ampun dari Tuhan, sesuatu yang tak akan pernah kalian terima, dan tak kalian percaya sepanjang hidup kalian. dan kau, adalah salah satu pendusta besar Tuhan yang kematiannya paling dekat, oleh karena itu aku ingin melihat langsung apa reaksimu jika aku menampakkan diri terlebih dulu di depanmu.' 'oh, begitu ya.' laki-laki itu kembali terdiam, dan malah asyik dengan rokoknya. kemudian dia hisap dalam-dalam rokok itu untuk terakhir kalinya, lantas dibuangnya ke tanah dan ia injak hingga mati. ia memandang kosong ke langit sejenak kemudian menatap sosok asing di depannya, 'aku akan mati? menghadap tuhan? tapi bukankah tuhan telah mati terlebih dulu?'

 

langkahnya semakin tergesa, namun tetap dengan penuh waspada menghindari genangan air sisa hujan yang mengguyur tadi siang. suasana hatinya begitu riang, ia menapakkan kakinya dengan begitu mantap dan gembira. akhirnya, akhirnya dia bisa menemui pujaan hatinya itu secara langsung. akhirnya dia tahu alamat wanita yang selama ini ia idamkan itu. pandangannya menerawang ke atas, menangkap langit senja yang semburat ungu karena bercampur dengan sisa awan mendung. amboi indahnya, tampaknya terberkatilah ia dan kasihnya itu, begitu pikirnya. semakin rianglah langkahnya ketika harapan-harapan itu kembali membuncah, terutama jika dia ingat lidah-lidah beracun yang menjulur dari rekan kerjanya. 'hentikanlah, dia bukan milikmu.' 'lupakanlah saja dia.' 'dia bukan kekasihmu.' 'dia bukan siapa-siapamu.' 'hei, dia bahkan tidak mengenalmu!' akan dia tunjukkan kemenangan itu dalam genggamannya, sama ketika dia mengenggam puas kertas bertuliskan alamat yang akhirnya ia peroleh setelah melalui penelusuran panjang.

 

dia meneruskan langkahnya, berhati-hati agar tidak menginjak kubangan air yang menggenang di jalan. kubangan sisa hujan, ah ya, hujan pun selalu mengingatkannya pada wanita itu. hujan yang sama, yang mempertemukanku dengannya untuk pertama kali? apakah ini pertanda baik? terbayang jelas saat wanita itu berteduh di depan kafenya bekerja sewaktu hujan turun. gerakannya yang gemulai saat wanita itu berusaha mengeringkan tubuhnya, mengibaskan-ibaskan rambutnya, kemudian menyapukan lembaran tisu untuk menyeka wajahnya. ia bagaikan melihat bidadari hujan sedang menarikan keindahan dihadapannya. begitupula saat ia pertama melihat wanita itu masih berlarian tergesa menghindari hujan, dan ketika wanita itu berjalan dengan anggun ketika cerah mulai tiba. entah cerah, entah hujan. baginya semua adalah elemen pendukung keindahan gerakan bidadari elok. dan jantungnya selalu berdesir jika membayangkan itu semua.

 

'kau adalah Air, kau adalah keindahan. semua tentangmu adalah tentang keindahan, karena kau Air.' begitu yang ia tulis dalam setiap puisi yang ia rangkai bagi sang wanita. 'kau adalah sumber kehidupanku, mengalir dalam setiap darahku, karena kau adalah Air, sandaran jiwaku, dan ketiadaanmu meniadakan keberadaanku.' selalu kata-kata tersebut membanjir benaknya dan kata-kata itu pula yang selalu ia tuliskan di setiap lembaran kertas kosong. baginya tiada hari tanpa terkenang akan Air. 'kau bilang dia air? apa karena kau bertemu dengannya dikala hujan turun?' 'atau karena nama aslinya Ria?' selalu kata-kata yang melemahkan yang keluar dari mulut busuk rekan kerjanya itu. 'Tidak. Dia Air karena memang dia adalah Air. Karena Air adalah keindahan, dan keindahan adalah ia. Dan biarkan aku menjadi Pasir yang selalu merindukannya dan rakus akan cintanya.' 'Hei, buat apa kau mencintanya sedemikian dalam?' 'untuk apa kau memujanya begitu tinggi?' 'Kau bahkan tidak mengenalnya begitu baik!' 'Dia bahkan tidak mengenalmu!' 'Kalian bahkan tidak pernah bercakap satu kata pun!'

 

'mengapa kau bisa tidak percaya akan Tuhan?' 'mengapa aku harus percaya tuhan?' 'kau malaikat, kau yang lebih tahu alasan mengapa aku bisa tidak percaya tuhan.' 'Aku benar-benar tidak bisa memahami pemikiranmu. Aku benar-benar tidak bisa memahami manusia.' 'kau pikir aku bisa?' untuk beberapa saat keduanya hanya berdiri mematung dalam diam. 'sudah berapa banyak manusia yang mati?' 'maksudku, berapa banyak manusia yang telah kau cabut nyawanya sementara kau malah ada di sini, di hadapanku, berdiri terdiam hanya untuk menyaksikan aku merokok saja.' 'ada 59.307 jiwa. ah sekarang, 59.308 jiwa.dan lihat gelandangan yang ada di seberang sana, yang hendak menyantap nasi bungkus itu, dalam beberapa detik lagi ia akan mati sakit jantung, menjadi orang ke 59.309, yak, satu, dua, tiga.' dari kejauhan laki-laki itu berusaha menangkap arah yang ditunjukkan sosok yang dihadapannya itu. dan benarlah, nampak olehnya sosok gelandangan yang sedang duduk di emperan ujung kejauhan seberang jalannya dan memegangi nasi bungkusnya, tiba-tiba jatuh terkapar dan memegangi dadanya. sejenak laki-laki itu terpikir untuk menghampiri gelandangan itu, tapi diurungkan niatnya ketika dia lihat ada gelandangan lain yang tiba-tiba menghampiri sosok yang terkapar, gelandangan yang semula nampak mengorek-ngorek tempat sampah di seberang emperan toko itu. laki-laki itu lantas kembali terdiam. dia malah menyalakan rokoknya lagi. 'apa kini kau percaya padaku? percaya bahwa aku malaikat maut?' laki-laki itu tertawa. 'haha, meskipun pada akhirnya kau memberikanku buku kematian, bagiku kau dan idemu tentang mati karena sakit jantung itu tetaplah suatu rekaan buat anak-anak.'

 

nafasnya terengah-engah, jantungnya berdegup kencang. dia lempar pandangannya ke seisi rumah itu dengan penuh kepanikan. kepalanya pening jika dia mengingat kejadian yang baru saja terjadi. 'apa yang telah kulakukan?' 'mengapa aku bisa sedemikian bodohnya?' 'bagaimana ini semua bisa terjadi?' segera dia bergegas memeriksa seisi rumah dan mengecek keluar melalui gorden jendela, khawatir jika ada yang melihat perbuatannya tadi. setelah sekali lagi memastikan tak ada yang melihat perbuatannya tadi, dia duduk lemas bersandarkan tembok. 'ini salahmu, bukan salahku! seandainya kau mau mendengarkan apa yang mau kukatakan! seandainya kau mau sejenak saja berbincang akrab bersamaku seperti yang kupinta! ini semua salahmu!' dia pandangi dalam-dalam wanita yang telah terbujur kaku di lantai itu. 'tidak, ini salahku! mengapa tadi aku ngotot memaksa masuk! mengapa tadi aku mencekiknya! mengapa tadi aku malah bergegas kemari hanya untuk menemuinya dan bercakap dengannya!' dia pejamkan matanya, kemudian ia dongakkan, menarik nafas dalam-dalam, dan ia bentur-benturkan kepalanya ke tembok di belakang.

 

beberapa saat kemudian ia buka kembali matanya dengan pandangan berkilat dan senyum menyeringai. 'tidak ini salahnya! ini salahnya karena ia membiarkan aku masuk! ini salahnya karena percaya padaku, pada tangis menghibaku! ini salahnya karena tidak waspada!' 'ya, ini salahnya! ini salahnya karena ia telah menodai hakikat Air! ia telah berpura-pura menjadi Air, padahal ia bukan Air! ya, yang telah mati ini hanya manusia biasa, manusia hina yang tak pantas kucinta! Sementara Air masih hidup! Air tetap kekal dan aku masih bisa merasakannya dalam darahku! Lihat, segenap tubuhku masih mencintanya dan memanggil-manggil namanya! Air! Air!' dengan penuh semangat laki-laki itu bangkit dari duduknya. sejenak sebelum ia melangkah keluar dari pintu rumah itu, ia menoleh lagi melihat wanita yang terbujur kaku itu. darahnya kembali berdesir ketika memandangi sosok wanita itu. 'apakah engkau seorang bidadari yang sedang terlelap?'dia memandang dengan penuh kasih 'tidak! dia bukan bidadari! dia tidak pantas menyandang kesucian bidadari!' sejurus kemudian pandangannya berubah menjadi pandangan liar. kembali dia tersenyum menyeringai puas. dia urungkan niatnya untuk melangkah keluar. sebaliknya kunci kembali pintu rumah itu, kemudian dia menggeletakkan badannya, berbaring menindih wanita yang telah menjadi mayat itu, dan dengan beringas melepaskan kancing dan pakaian yang masih menempel. dan dari radio yang masih mengalun terputarkan alunan,  'tak usah dimasalahkan, kau yang kupujaaa...'

 

laki-laki itu terdiam sejenak. ia memandang kosong ke jalanan yang sunyi itu dan ke langit malam yang masih digelayut mendung. wajahnya menampilkan ekspresi kenikmatan setiap ia menghisap rokok yang baru ia bakar itu. akhirnya ia beranjak dari sandarannya di tiang lampu jalanan itu dan ia setelah menarik dalam-dalam lagi, akhirnya ia berkata pada sosok asing ini, 'dengarkan aku, hei tukang cabut nyawa. mungkin banyak orang yang percaya padamu, percaya akan tuhan. banyak juga orang yang takut kepadamu, takut akan tuhan. tapi aku memilih untuk tidak percaya. aku memilih untuk tidak takut. karena rasa takut itu merupakan penghalang terbesar dalam hidup ini. termasuk rasa takut akan maut, dan rasa takut kepada tuhan. dan aku dengan bangga bisa mengatakan kepadamu, bahwa aku telah berhasil mengalahkan rasa takut itu sepanjang kehidupanku, termasuk ketakutan akan ketakutan yang seringkali lebih besar dari ketakutan itu sendiri. maka dari itu, jika kau datang memperingatkanku tentang kematian dan siksa yang akan aku terima, maka aku sama sekali tidak takut. lagipula tidak perlu menunggu tiga hari lagi, sebenarnya hidupku telah berakhir semenjak tiga jam yang lalu. oleh karena itu, jika kau hendak datang kepadaku tiga hari lagi, maka datanglah, akan kusambut kau dengan baik. namun sebelum itu, biarkan aku yang menghampirimu terlebih dahulu sebelum kau datang menjemput. karena aku sendiri sudah muak dengan segala omong kosong yang ada dalam kehidupan ini.dan oh ya kutinggalkan untukmu kenikmatan dunia yang mungkin tak kau peroleh di alam sana. kau bisa coba bakar itu dengan api neraka, bisa menyala atau tidak. kalau tidak, maka kau harus modal: belilah di warung di bumi. paling hanya seribu rupiah.'  segera setelah mengambil sebatang rokok lagi dan ia masukkan ke saku kemejanya, ia lemparkan bungkus rokok yang tadi masih separuh itu ke malaikat maut dan beranjak pergi, tak mempedulikan lagi apa yang hendak dikatakan sosok asing itu, dan masihkah mengikutinya. terlalu banyak gagasan yang berseliweran di pemikirannya. dan ketika dia mendongakkan kepalanya ke atas, kemudian dia menangkap baliho iklan yang menampilkan mobil berwarna merah, dia teringat akan apel yang selalu ia konsumsi tiap pagi, ia teringat akan pisau yang biasa ia gunakan untuk mengupas apel, dan akhirnya terlintaslah di benaknya sebuah gagasan cemerlang yang semenjak tadi ia nantikan kemunculannya.

 

'selesai.' tutup tukang cerita mengakhiri kisahnya. dan lihatlah dirimu yang masih duduk terkesima mendengarkan kisah yang baru saja disampaikan tukang cerita kepadamu. 'apakah tadi memang benar sebuah kisah cinta dan kisah kehidupan sesuai yang aku pinta?' kau pun bertanya. dan tukang cerita hanya menjawabmu dengan seulas senyuman.

 

-Depok. Kuartal 1 2011-

Tidak ada komentar: