Minggu, 30 Oktober 2022

Cerita tentang Kantin Mahasiswa

 Ini adalah sebuah kantin mahasiswa

Surga bagi mereka yang merasa disiksa dalam neraka bernama ruang kelas
Sekaligus neraka bagi mereka yang menemukan kedamaian di ruang kelasnya
Ini adalah sebuah kantin Mahasiswa
Saat dimana mahasiswa bisa membebaskan diri
Tanpa bermunafik lagi di depan dosen, menjadi apapun yang ia mau
Lihatlah pada suatu ujung
Ada yang bermain kartu,
Begitu asiknya dengan asap yang mengepul
Tak peduli dengan mahasiswi yang makan di balik punggung
Tak risau dengan waktu kuliah yang sudah menunggu dari sejam yang lalu
Hanya kartu dan mungkin sedikit uang taruhan yang terpikirkan
Hanya riuh gelak tawa yang terucapkan
Dan mungkin sesekali akan terdengar makian dari mereka yang kalah
(Buat apa kita kuliah, kalau bisa main kartu? 
Yang penting main kartu dan cari duit dulu, kuliah bisa menunggu
Yang penting kan absen ga jebol, dan ujian bisa ikut)
Lihatlah pada ujung yang lain
Mahasiswa-mahasiswa aktivis
Duduk melingkar bak intelek-intelek elit
Lihatlah di meja:
Kopi, Rokok, dan buku-buku tentang pergerakan serta perpolitikan bangsa
Tidak ada makanan, tidak ada canda
(Kami tidak sempat untuk tertawa jika memikirkan saudara kami yang bersedih
Kami tidak tega untuk makan jika memikirkan saudara kami yang kelaparan
Kami tidak sampai hati untuk kuliah sementara saudara kami ada yang tidak bisa sekolah
Kami hanya peduli dengan saudara kami, dengan bangsa ini
Dan hanya kamilah golongan mahasiswa yang sanggup merubah itu semua)
Lihatlah pada ujung yang lain
Kelompok mahasiswa seniman
Secara ragawi, mereka sedang duduk bersama di dalam kantin mahasiswa
Tapi secara ruhani, entah mereka ada di mana sekarang
Ada yang melayang mengikuti alur cerita dari buku sastra yang ia baca
Ada yang melayang mengikuti melodi gitar yang ia tirukan dari seorang legenda musik
Dan ada yang melayang bersama…. Ah tak jelas melayang bersama apa, hanya melayang saja, 
Katanya sedang cari inspirasi
(Ini adalah seni
Manusia boleh pintar, tapi belum tentu mereka bisa memahami keindahan seni
Dan kamilah orang-orang yang dipilih Tuhan
Untuk menjadi golongan istimewa, golongan yang paham keindahan seni)
Lihatlah pada ujung lainnya
Golongan mahasiswa terpelajar
Golongan mahasiswa baik-baik, teladan bagi yang lain
Tidak ada asap mengepul dari tempat mereka
Di atas meja, piring makan berebut tempat dengan buku-buku kuliah tebal
Golongan mahasiswa terpelajar makan secara tertib
Teratur, tidak berisik
Kalaupun perlu bicara, hanya seperlunya saja,
Itupun seringkali berhubungan dengan kuliah, kuliah, dan kuliah
(Kami adalah mahasiswa
Tugas kami adalah belajar, belajar, dan belajar
Kami sudah banyak merepotkan orang tua kami
Sudah saatnya kami membalas mereka
Yaitu dengan rajin belajar, belajar, dan hanya belajar
Agar kami bisa sukses di kemudian hari)
Ada juga kau temui di ujung,
Kelompok mahasiswa yang putus asa
Merokok-merokok-merokok, melamun-melamun-melamun,
Hanya itu yang dilakukan
Tak tahu apa sebab mereka begitu
Hanya saja golongan ini dinamakan golongan putus asa
Golongan yang sudah putus asa akan kuliahnya yang tak kunjung membaik, tapi sayang untuk dilepas
Golongan yang sudah putus asa akan cinta yang tak kunjung berbalas, tapi jijik untuk berganti orientasi seksual
Golongan yang dikecewakan oleh sahabatnya sendiri, tapi tak tega meninggalkan sahabatnya itu
Golongan mahasiswa putus asa, golongan orang-orang terpuruk,
Yang isinya selalu orang yang tersisih keadaan
Yang selalu berbeda manusianya dari bulan ke bulan, tergantung musimnya
Dan masih banyak lagi, mahasiswa-mahasiswa yang sering nongol di kantin,
Ada mahasiswa yang kelelahan setelah berolahraga, 
Mampir hanya untuk melepas lelah, setelah itu cabut lagi ke arena pertandingan
Ada mahasiswa yang datang sekedar untuk kumpul-kumpul dulu,
Membicarakan mau jalan-jalan kemana, setelah itu berangkat ke pusat perbelanjaan
Dan ada pula mahasiswa yang sekedar datang ke kantin
Hanya untuk mencari kenalannya yang sedang makan atau merokok,
Setelah itu dia ngeloyor pergi begitu dapat apa yang dia ingini
Perhatikanlah kantin mahasiswa ini
Begitu menarik, begitu memikat hati
Bukan pada makanan yang menjadi daya tarik
Tapi pada orang-orang yang ada di kantin inilah daya tarik itu berasal
Berbagai topic pembicaraan dibahas di sini
Mulai dari asmara, lika-liku politik kampus, kompleksitas sebuah kalkulus, 
Hingga kata-kata makian dan olokan dapat didengarkan di kantin mahasiswa
Di kantin inilah, para pemuda harapan bangsa, berkumpul di sela-sela kuliahnya
Ada yang jadi dosen di masa depan, padahal kerjaannya sekarang hanya main kartu
Ada yang jadi pemimpin bangsa di masa depan, padahal sekarang hanyalah golongan putus asa
Atau mungkin justru menjadi pengkhianat bangsa di masa depan,
Walaupun sekarang getol bicara pergerakan dan bicara tentang belajar,belajar, dan belajar
Semuanya begitu menarik jika kita membicarakan tentang kantin mahasiswa
Tentang orang-orangnya dan tentang apa yang mereka bicarakan, semuanya memikat hati
Dan karenanyalah aku bersyukur bisa mengenal tempat ini begitu dalam, 
Walaupun hanya sebatas penjaja nasi uduk
Dibuat di Depok, Sabtu 6 Februari 2010, pukul 4.55 AM 

Tidak ada komentar: